Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

RUMAH DARI AYAHKU

Aku pun pergi dari rumah itu. Kutancapkan gas seolah tak mau dikejar. Mereka menatapku penuh dendam, tatapan keserakahan. Di ruangan itu makian dan hinaan terus menancapkan ke dadaku, sakit rasanya. Ibuku hanya diam, tatapannya sama. Semenjak kepergian ayahku hidupku berubah.

Ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin yang kelima kalinya pamanku kembali ke rumah. dia banyak bicara kepada ibuku yang terkadang pikun. Sudah sekian kali aku pun menasehati ibu, namun kadang ibu lupa.

Masuk pintu tol, di tengah perjalanan, kubuka ponselku tuk mencari kembali rumah yang akan dijual. Pikiranku kacau, hanya ku ketik rumah dan lokasi rumah. Jiwaku hancur, sangat hancur. Masih terngiang perkataan-perkataan mereka diruangan itu. Dan ibu tatapannya sama.

Lalu kulanjutkan perjalanan dengan ponsel digenggaman. Menelusuri rumah itu di gps. Seandainya saja ayahku masih ada. Aku tak akan begini. bahkan untuk kembali kerumah pun berat rasanya. Dan adikku seolah memanfaatkan keadaan. Lamunanku terburai ketika salah satu pengendara dibelakang membunyikan klakson dengan kencang, aku berjalan terlalu pelan. Aku lanjutkan mencoba mengontrol emosiku.

Entahlah apa yang ada dipikiranku niat untuk membeli sebuah rumah dengan tidak memiliki uang. Uang Seratus ribu disaku ku mungkin hanya cukup untuk hari ini saja. Yang ada di pikiranku, semua tubuh yang aku miliki saat ini, dan sebuah mobil, aku tetap berusaha. Seadanya.

Tak lama kemudian, telepon berdering dari Ana. Kubasuh air mata lalu ku jawab telpon Ana.

Anna   : Ratih lo lagi dimana?
Aku     : Hai Ana, aku menuju Depok. Jawabku datar
              Apa kabar rumahmu, sudah ada yang cocok kah? aku pun berharap
Anna  : Belum ada tih, satu pun belum ada
Aku    : Anna nanti aku telpon lagi ya, aku sedang dijalan. Ana pun mengiyakan nya

Harapan dari ana pun kandas. Aku terus berpikir. Lalu aku ingat Bela. Aku pun langsung menelponnya dan menanyakan rumah kosannya yang akan dia jual. Hal sama yang kuterima baik Anna dan Bella rumah mereka belum ada yang berminat. Tamat batinku lirih.

Ibu. Aku menangis bila mengingat ibu. Karena hasutan paman ibuku seperti orang lain. Tiba di sebuah perumahan yang dulu aku dan ayahku pernah kesini. Hanya sekedar melihat-lihat perumahan yang lumayan jauh dari jalan utama dengan beberapa rumah. 

"Ratih" seseorang memanggilku tak lama aku menutup pintu mobil.

Ternyata Pak Romli yang dulu pernah kami temui. Saya pun di ajak ke ruangannya dan aneh, beliau mengucapkan bela sungkawa. 

Pak Romli  : "Ratih saya tahu semuanya" mengawali perbincangan 

Dia pun menceritakan semuanya. 


30 April 2019 Ade Nugraha




POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

Sudah dua tahun saya bekerja sebagai petugas kebersihan di ibukota. karena saya lulusan sd sangat sulit sekali untuk mencari pekerjaan. sampai akhirnya nasib saya hingga saat ini mentok di petugas kebersihan. Umur saya 31, orang tua saya sudah meninggal dua-duanya dan kini saya tinggal bersama saudara saya di sebuah gubuk pinggiran Jakarta. 11 tahun yang lalu ayah saya meninggal dan saya masih ingat dengan pesan terakhir beliau, yaitu jangan berurusan dengan polisi.

Setiap pagi pukul lima saya sudah berada di jalanan ibu kota. membersihkan daun daun yang berserakan di pinggir jalan. pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas saya sehari hari. Sesekali saya memandang pos polisi yang berisi 4 orang polisi yang sedang berbincang bincang. Entah mengapa memandang pos polisi tersebut seperti memandang hal baru setiap harinya. 

Teringat ketika saya sedang bersama ayah , ibu dan kaka saya ketika kami pergi untuk menjenguk saudara kami di Subang. waktu itu ayah saya untuk pertama kalinya menyewa mobil Carry dan ayah sendiri yang mengemudikannya. Kami sangat senang sekali untuk pertama kalinya walau dengan duit pas-pasan ayah beserta keluarga kecilnya bisa ke rumah saudaranya. Namun alangkah kagetnya di tengah perjalanan mobil kami distop oleh mobil polisi dan mereka pun melangkah menghampiri ayah tercinta kami. saya yang duduk di belakang mengintip ayah saya dan polisi itu, tangan saya gemetar, kaki saya juga. mata saya berlinang air mata melihat ibu saya teriak histeris. Kakak saya hanya diam saja. dan ayah saya , saya melihat ayah mengeluarkan uang seratus ribunya dari dompet. 

Pekerjaan saya selain membersihkan, juga merapihkan tanam-tanaman yang ada di sekitar jalan. pekerjaan inilah yang saya suka, tanaman tanaman yang dipinggiran jalan sudah saya anggap seperti tanaman sendiri. saya perlakukan seperti tanaman saya di gubuk. Kadang saya bawa gunting taman, kadang juga hanya bawa arit saja. sesuai kebutuhan.

Hari yang cerah pukul 7 pagi. aktifitas ibukota yang gemuruh setadi pagi karena jam kerja sudah mulai kembali. lalu lalang kendaraan sudah tidak asing bagi saya. dan setiap memandang pos polisi itu seperti hal yang baru bagi saya setiap pagi. saya perhatikan dari kejauhan. saya perhatikan tingkah tingkah polisi polisi yang ada di pos itu.

Kembali ke cerita ayah dan ibu, sewaktu kami masih tinggal di desa dan saya masih kecil dihimpit diantara ibu dan ayah saya melajukan sepeda motor. Lalu ada seorang seorang polisi mengejar kami dan menanyakan surat surat stnk dan sim. Ayah saya waktu itu memang tidak punya sim dan percekcokan pun terjadi. Dan saya melihat ayah saya ditampar oleh polisi tersebut. Disaat itulah semenjak masih kecil apabila bertemu dengan polisi badan saya gemetar dan keluar keringat dingin hingga sekarang trauma itu masih tersimpan. 

Gunting taman, ya, sebuah gunting taman yang saya bawa dan perlahan saya mencoba mendekati pos polisi itu. karena tanam-tanaman yang dekat dengan pos polisi tersebut memang tidak pernah saya jamah, karena teman saya yang biasa membantu saya sedang sakit. Jadi untuk kali ini saya memberanikan diri.

Gunting taman ini lumayan besar kurang lebih panjangnya 60cm. Tadi malam gunting taman ini saya asah hingga tajam. dari kejauhan hingga mendekati pos polisi tersebut saya memandang, memandang seperti hal yang baru. Kali ini hanya ada seorang polisi yang sedang merokok, dan saya tidak mengenal namanya. di belakang pos polisi saya perhatikan tanaman saya dan merapihkan daun-daun yang sudah panjang. 

Sudah tajam, gunting taman ini sangat tajam. lalu saya membalikkan arah ke seorang polisi tersebut dan menancapkannya ke leher polisi itu. Darah segar pun berceceran. Sepertinya sekali gerakan saja polisi tersebut langsung tidak berdaya. Tubuhnya berlumuran darah. Lantai pos polisi ini pun penuh dengan darah. Melihat pos polisi ini seperti hal baru bagi saya beserta darah dan tubuh yang tergeletak tak berdaya. Dibelakang saya ada ayah dan ibu saya. mereka hanya menatap pos polisi tersebut, seperti saya dan tangan mereka memegang bahu saya dengan lembut.

"Mas Iman, ... mas" , seseorang memanggil nama saya dari belakang.

Saya pun terbangun dari lamunan dan alangkah kagetnya ternyata orang yang memanggil nama saya tersebut adalah polisi yang tadi ada di depan saya. saya pun melihat namanya Ferry Irawan, seperti nama ayah. Saya sangat kaget beliau tau nama saya.

"Bagaimana bapak bisa tau nama saya?"  saya bertanya heran.
"Saya tau nama mas dari teman mas Wandi yang sering ada disini" Polisi itu menjawab.

Saya lihat gunting taman menempel di salah satu batang tanaman di bawah dan polisi itu dengan menjinjing sebuah plastik menawarkan nasi uduk kepada saya. Lalu kami pun berbincang-bincang di pos polisi ini. Gemetar tubuh saya perlahan hilang seiring dengan obrolan hangat kami.

Ade Nugraha 
11 Maret 2015

TERJEMAHAN CERPEN "THE TELL - TALE HEART"

Terjemahan Cerpen "The Tell - Tale heart" 
Karya 
Edgar Allan Poe

Ceritaan – Ungkapan hati

Benar! Gugup, sangat menakutkan yang saya alami; tapi mengapa yang kau katakan aku gila? Penyakit itu telah masuk ke pikiranku, tidak merusak, tak buat aku dungu. Semua itu adalah perasaan yang amat gawat. Aku dengar semua hal di surga dan di bumi. Aku tau semua tentang neraka. Lalu bagaimana saya bisa marah? Mendengarkan! Dan mengamati dengan jernih, dengan tenang, akan aku ceritakan semua kisahnya.

Sangat tidak mungkin untuk menceritakan pertama kali ide itu muncul, tapi, satu hal, yang menghantui siang malam. Tidak ada objek. Tidak ada cara. Aku cinta lelaki tua itu. Ia tidak pernah menyalahkanku. Ia tidak pernah menganiayaku. Untuk emasnya aku tak ada keinginan. Mungkin matanya! ya, itu dia! Matanya menyerupai burung hering itu. Mata biru yang pucat. Kapanpun terasa masuk ke darahku berlari dingin, dan juga secara bertahap, aku buat pikiranku untuk hidup bersama lelaki tua itu, hal itu melemparkanku pada kehidupan mata hering itu.

Sekarang ini intinya. Kau menghayal aku gila. Lelaki gila tak tau apa-apa. Tapi kau harusnya melihatku. Kau harusnya melihat betapa bijaksananya aku  memulai semua ini —dengan peringatan apa—dengan meninjau masa depan mana, dengan pura-pura yang mana, aku pergi bekerja! Aku tidak pernah mengambil tindakan kepada lelaki tua itu sampai selama seminggu sebelum aku bunuh dia. Dan setiap malam, tengah malam aku buka pintu kamarnya dengan hati-hati! Kemudian, ketika pintu terbuka cukup masuk kepalaku, aku letakan berdekatan dengan lentera yang gelap, dekat sehingga tak ada cahaya keluar, lalu aku masukan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti tertawa melihatku dengan cerdik memasukan kepalaku kedalam! Pelan, sangan pelan, sehingga tak mengganggu lelaki tua itu yang tertidur. Berjam-jam aku lakukan itu, untuk membuat kepalaku seluruhnya masuk sampai aku melihatnya tertidur di ranjang. Ha! Akankah lelaki gila ini mengetahui sat saat seperti ini? Aku baru saja membukanya sehingga sinar tipis mengena pada mata burung hering. Yang ini aku lakukan untuk malam panjang yang ke tujuh, setiap malam setiap tengah malam, tapi mata itu selalu tertutup, hal yang mustahil untuk melakukan sesuatu, untuk itu bukan lelaKi tua yang menyakitiku tapi mata setannya. dan setiap pagi, ketika hari terjatuh, aku pergi ke kamar dan berkata dengan berani kepadanya, memanggil namanya dengan keras, dan menyelidiki bagaimana ia melewati malam. Setiap jam 12 aku lihat dia ketika tidur.

Malam yang ke 8, aku lebih biasakan membuka pintu. Tiap menit bergerak cepat daripada yang dirasakan. Belum pernah sebelumnya malam itu aku merasakan kehadiran dari kekuatanku sendiri, dari kecerdikanku. Aku hampir menang. Berpikir membuka pintu sedikit demi sedikit, dan ia bahkan tidak memimpikan rahasia perbuatanku. Aku tertawa kecil dengan ide ini, dan barang kali ia mendengarku. Sekarang kamu mungkin berpikir aku menggambarkan yang lalu- tapi tidak. Kamarnya gelap. Dan juga saya tahu bahwa ia tidak akan melihat ketika aku membuka pintu dan terus membuka perlahan.

Aku telah masukkan kepalaku, dan membuka lentera, ketika aku memegang tali timah, dan lelaki tua itu terbaring di kasur, teriak, siapa itu?

Aku diam. Diam lama sekali. Saat itu juga aku tak mendengar ia turun dari ranjang. Ia masih berada di ranjang, mendengarkan; yang baru saja aku lakukan tiap malam.

Segera, aku dengar rintihan, dan aku tahu itu adalah rintihan dari sebuah teror. Bukan rintihan rasa sakit atau sedih. Oh, tidak! Suara itu adalah suara tak berdaya yang ku dengar. Aku tahu suara itu. Banyak malam, baru saja, ketika semua tertidur, mengalir didada, sangat dalam, dengan rintihan itu, teror itu menggangguku. Aku tahu betul. Aku tahu yang dirasakan oleh lelaki tua itu, aku kasihan padanya walau hatiku mengeluh. Aku tahu bahwa ia sudah pernah berbohong sejak ketika pertama kali gaduh saat beranjak dari tempat tidur. Ketakutannya sedang tumbuh. Ia mencoba berhayal tanpa sebab, tapi gagal. Ia berkata pada dirinya “ Itu adalah tak lain hanya asap dari cerobong, itu hanya tikus yang berjalan di tembok”.  

Ketika aku telah menunggu lama waktu dengan sabar tanpa tatap muka dia berbaring, aku memecahkan untuk membuka suatu sedikit-- seluruhnya, sangat kecil celah di dalam lentera itu. Maka saya membuka itu-- kamu tidak bisa membayangkan bagaimana pelannya, diam-diam-- sampai sinar suram tunggal seperti benang laba-laba memancar dari celah dan menyerang mata burung manyar itu.

Terbuka, lebar, terbuka lebar-lebar, dan aku bergerak sangat hebat dan menatap di atas nya. Aku lihat ia dengan jelas sempurna-- semua luka yang biru tumpul dengan dengan selubung yang mengerikan di atas itu kedinginan itu seluruh sumsum di dalam tulang ku, tetapi aku bisa lihat tidak ada yang lain untuk orang atau wajah yang tua, karena aku telah mengarahkan sinar itu seolah-olah oleh naluri yang dengan tepat ketika noda yang terkutuk itu.

Dan sekarang aku menceritakan kepada kamu bahwa apa yang kamu salah kira untuk kegilaan ini tidak lain dari over-acuteness pikiran sehat? sekarang, aku katakan, disana datang kepada telinga ku adalah suatu bunyi; serasi cepat yang tumpul, seperti suatu penantian membuat ketika kapas dibungkus. Aku mengetahui bahwa bunyi; serasi yang baik juga. Itu adalah pukulan jantung yang tua. Itu meningkat amukan ku ketika pukulan suatu drum merangsang prajurit itu ke dalam keberanian.

Jika kamu masih berpikir saya gila, kamu tak akan berpikir lama ketika saya menggambarkan tindakan pencegahan di dalam persembunyian. malam semakin larut, dan aku harus cepat, tetap pelan.

Aku ambil 3 papan dari lantai kamar, dan menyimpannya diantara balok-balok. Lalu meletakkan kembali dengan rapi, sehingga tak ada orang yang dapat mengetahuinya. Tak ada sisa noda darah sedikitpun. Aku sangat hati-hati.

Ketika semuanya akan berakhir, jam 4 pagi, masih gelap. Ketika bel jam berdeting, ada seseorang yang datang. Aku turun dengan hati yang cerah., tak ada ketakutan? 3 pria, memperkenalkan diri dengan sopan, polisi. Tetangga mendengar jeritan malam tadi. Kecurigaan telah terjadi. Dan mereka pun ditugaskan untuk kesini.

Aku tersenyum, tak ada rasa takut? Aku tawarkan mereka masuk. Teriakan, aku berkata, itu suara ku ketika bermimpi. Lelaki tua, aku jelaskan, pergi ke daerah. Aku tawarkan mereka menggeledah rumah. Aku ajak mereka ke kamar lelaki tua itu. Aku tunjukkan miliknya, aman, tak ada yang rusak. Lalu aku bawakan mereka kursi untuk duduk istirahat, dan aku, dengan berani aku duduk di tempat papan bernoda tadi.

Caraku telah meyakinkan mereka dan mereka puas. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan aku jawab riang. Tapi, tak lama kemudian mukaku pucat karena ingin segera mereka pergi. Kepalaku sakit, dan berkhayal bunyi dering ditelingaku. Mereka tetap duduk dan berbincang. Bunyi dering itu makin jelas. Aku mencoba berkata lebih bebas. Tapi hal itu terus berulang pasti. Sampai, suara itu aku rasa tak ada di telingaku.

Sekarang aku sangat pucat. Tapi aku berkata lebih fasih, dan dengan suara yang meninggi. Apa yang harus aku lakukan? Aku menghembus, dan sebelum polisi mendengarnya. Aku berkata lebih cepat, lebih bernafsu namun tetap dengan suara bersahabat.      


SEPENGGAL CERITA INAH

Inah berjalan menapaki jalan setapak dalam hutan yang lebat itu. Sambil tergopoh-gopoh Inah berusaha untuk terus melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai gelap. 

Terbayang dalam ingatan Inah wajah suaminya yang menyambut kedatangannya tahun lalu. Keceriaan dalam kerinduan yang terpendam sejak sekian lama. 


Namun apa yang dialami Inah saat ini sungguh memilukan hati Inah. Dompet dan tas Inah telah dirampok oleh sekelompok preman dekat terminal bus.

Sudah setengah hari Inah berjalan. Walau pun Inah mengenal tempat ini, akan tetapi perjalanan yang panjang harus Inah lalui hingga tiba di rumah. Air matanya tak terasa jatuh. 

Tiupan angin dingin menerpa tubuhnya. Bukan hanya dirampok akan tetapi Inah juga telah dinodai oleh kelompok preman itu. Desiran suara daun tak terasa indah, suara daun yang diterpa angin semakin menyayat batin Inah. Dingin dalam hutan itu sedingan jiwanya kini.

Hari yang kelam, tak terbayangkan suasana indah bertemu dengan suaminya berbalik dengan suasana yang penuh dengan derita dan nestapa. Setiba dirumah Inah mengetuk pintu dengan sisa tenaganya. Seketika itu pula Inah jatuh pingsan.

Mata Inah sedikit terbuka. Suara yang memanggil namanya sedikit demi sedikit terdengar jelas ditelinganya. Suara itu berasal dari suaminya, menepuk-nepuk pundaknya sambil menyodorkan segelas teh hangat.

"minum dulu teh hangat ini" suaminya berkata

Ia belum bisa berkata apa-apa walau suaminya sedikit melontarkan pertanyaan tentang apa yang terjadi. Inah hanya terdiam. Menikmati sisa tenaganya.

Inah tersenyum ketika suaminya melangkah ke depan rumah karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan suaminya. Ia berangsut dari perbaringannya dan duduk di dekat meja. Suasana rumah ini seperti istana bagi Inah. Tumpukan kayu bakar tertata rapi seperti dulu, hangat tungku api sehangat pelukan suaminya. 

Di dapur itu Inah mengenang masa lalu berdua dengan suaminya.  Ia mengingat kembali ketika suaminya menggendong dari dapur hingga menuju kamar mereka. Ingatan manis itu masih terukir jelas. Suara daun, desiran angin terdengar indah dalam dapur itu.

Setelah meneguk kembali teh hangat yang berada di tangannya, inah beranjak berdiri dengan sisa kekuatannya. Lalu, ia bergerak pelan ke belakang rumah lewat pintu depan. Suami Inah sedang mencangkul di sawah di depan rumah inah. 

Inah hanya tersenyum, lalu melanjutkan tujuannya ke belakang rumah. Desiran angin memberikan tenaga untuk untuk Inah, gemericik air di sawah menyejukkan hati Inah. Batinnya tenang setenang gerakan daun yang melambai. Di belakang rumah reod itu Ia lalu duduk berjongkok di depan makam suaminya tercinta. Hatinya tenang. 

Inah tersenyum.





26 Agustus 2010Penulis : Ade Nugraha