Tampilkan postingan dengan label BUKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUKU. Tampilkan semua postingan

ROHIMUDIN NAWAWI AL BANTANI

ULAMA INDONESIA YANG JADI IMAM BESAR DI MASJIDIL HARAM


Syeikh Rohimudin Nawawi Al Bantani merupakan salah satu ulama besar di Nusantara. Kiprahnya di dunia keagamaan menghasilkan murid-murid yang sangat tersohor seperti KH. Hasyim Asy'ari di Jombang Jawa Timur, KH. Kholil di Bangkalan Madura, KH. R. Asnawi di Kudus, KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, KH. Tubagus Bakri di Purwakarta, dan lainnya. Di awal isi buku ini menampilkan riwayat-riwayat murid-murid beliau di atas yang juga merupakan ulama yang terpandang.

Buku ini memiliki ketebalan 1.5 cm dan 296 halaman. Panjang 16 cm lebar 11 cm. Harga Rp. 65.000,- saja. Buku berwarna putih ini di cetak pada Februari 2017 oleh Mentari Media PT. Melvana Media Indonesia Depok Jawa Barat. Penulis adalah Rohimudin Nawawi Jahari Al bantani yang juga masih keturunan beliau. 

Menurut buku ini, beliau adalah ulama yang melahirkan banyak kitab dan tersebar keseluruh penjuru dunia dan menjadikan kitab-kitab rujukan di berbagai pesantren-pesantren Indonesia. Sebagaimana teolog Asy'ary lainnya, Imam Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim, yaitu Qadariyah dan Jabbariyah. 

Selain meriwayatkan murid-murid beliau yang termasyur, isi buku ini juga menjelaskan karya-karya beliau dan warisan keilmuan seperti di bidang fiqih, tauhid, tasawuf, hadist, sejarah dan bahasa. Dan dilanjutkan bagaimana pengaruh beliau pada masa itu dibidang fiqih, sosial politik, pendidikan, toleransi agama, bahasa, tasawuf dan bidang adab. 

Beliau sendiri, lahir pada tahun 1814 M (1230 H), di Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Banten bagian utara dan berpusara di Ma'la, Mekkah. Cerita bagaimana dikuburkannya di Mekkah merupakan karomah beliau yang akan dijelaskan dalam buku ini beserta karomah-karomah lainnya seperti menjadikan telunjuknya lampu, melihat Ka'bah dengan telunjuknya, mengeluarkan buah rambutan dari tangannya, menulis kitab sejak masih belia dan lain sebagainya. 

Demikianlah resensi buku Rohimudin Nawawi Al Bantani ini saya jelaskan dengan singkat. Diakhir bab dalam buku ini ditampilkan nasihat-nasihat dan kebijakan Imam Nawawi Al Bantani dalam Kitab Nasha-ihul Ibad. 


Sumber : Jahari, Rohimudin Nawawi. 2017. Rohimudin Nawawi Al Bantani. Depok. Mentari Media


RIWAYAT MAZHAB WALISONGO



Nagarakretabhumi 1.5 HAL 53 – 54

Oleh : Ayat Rohaedi

Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Bandung 1986

Diriwayatkan, bahwa dalam rangka penerapan hukum islam, para guru agama ada yang menganut mazhab Sapi’i, Hanapi, Hambali dan Maliki.

Sultan Demak dan para pembesar serta kepala wilayah dan banyak anggota kepala bersenjata menganut mazhab Hanapi. Adapun Sunan Jati adalah penganut Sapi’i. Begitu juga para putra, menantu, dan keturunannya serta para pembesar dan kepala wilayah yang ada di bawah pengaruh dan kekuasaan Sunan Jati di wilayah Jawa Barat dan di tempat-tempat lainnya lagi. (NKB 1.3. 51-52).

Adapun penganut mazhab Syiah yang disebarkan oleh Syeh Lemah Abang, kebanyakan murid-muridnya berada di Jawa Timur, antara lain Kiyageng Kebo Kenongo, Bupati Pengging, Pangeran Panggung, Sunan Geseng, Ki Lonthan, Ki Datuk Pardun, Ki Jaka Tingkir ialah Sultan Pajang, Kiyageng Butuh, Ki Mas Manca, Ki Gedheng Lemah Putih, Pangerang Jagasatru, Ki Gedheng Tedeng, Ki Anggaraksa, Ki Buyut Kalijaga, Ki Gedheng Sampiran, Ki Gedheng Trusmi, Ki Gedheng Carbon Girang, Pangeran Ccucimanah, Pangeran Carbon, Kibuyut Weru, Ki Buyut Kamlaka, Ki Buyut Truwag, Ki Buyut Tugmudal, Dipati Cangkwang, Pangeran Panjunan, Syeh Duyuskani ialah Pangeran Kajaksan, Pangeran Kejawanan, Dipati Suranenggala, Pangeran Mungsi, Ki Gedheng Ujunggebang, Ki Gedheng Panguragan, Ki Gedheng Ender, Ki Buyut Bojong, Ki Buyut Kedokan,, dan banyak lagi yang lainnya.

Mengenal penganut Hanapi, secara terperinci, disebutkan, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sultan Demak Raden Patah, Pangeran Sabrang Lor, Syeh Kuro, Syeh Majagung, Raden Sepat (Arsitek masjid Demak dan Cirebon), Sunan Kudus, Arya Penangsang, Syeh Benthong.

Sunan Kalijaga tadinya penganut Hanapi, namun setelah Syeh Lemah Abang meninggal, ia menjadi penganut Syiah. Juga Pangeran Trenggono, Kiyageng Sela atau Ki Jurumartani, dan Sutawijaya akhirnya menganut Mazhab Syiah.

Dengan demikian, ada tiga mazhab yang banyak penganutnya, yaitu mazhab Hanapi, Syafi’i, dan Syiah. Mazhab Syafei di Cirebon dan Jawa Barat lainnya, sedangkan mazhab Syiah banyak penganutnya di pedalaman Demak dan Jawa Timur, juga di pedalaman Cirebon dan Jawa Barat umumnya. Mazhab Maliki dan Hambali tidak banyak penganutnya.