LABA-LABA YANG MENAGIH HUTANG

Laba-laba itu yang mereka lukis di mobilku
Sedangkan aku berada disuatu tempat 
Berkumpul bersama yang lain.

Kami menatapi lukisan masing-masing dikejauhan
Ada harimau, ada gajah, ada kalajengking
Ada yang lain.

Ini bagaikan kehendak yang tak bisa ditawar
Setiap orang mendapatkan lukisan yang berbeda-beda
Dan harus membayar jasa lukis mereka.

Apakah aku suka?
Aku tak merasa itu harus disukai atau tidak
Yang jelas aku merasa ketakutan dan jijik

Aku berlari melewati sebuah jembatan yang ku kenal
Jembatan yang semasa kecil sering kulewati.

Laba-laba itu mengejarku mundur di depan
Seolah-olah aku yang mengejarnya.

"Aku tak mau bayar" Ucapku 
Laba laba itu pun menghilang sesaat
"Aku tak mau bayar" mantraku
Laba-laba itu pun kembali menghilang.

Dan tiba-tiba
Dia muncul di sampingku 
Mencengkram tangan kiriku.

"Aku jijik, aku takut, aku tidak suka laba-laba", teriak ku

Hingga istriku membangunkanku.



Bogor, 1 Mei 2019 04:19 WIB
Ade Nugraha







RUMAH DARI AYAHKU

Aku pun pergi dari rumah itu. Kutancapkan gas seolah tak mau dikejar. Mereka menatapku penuh dendam, tatapan keserakahan. Di ruangan itu makian dan hinaan terus menancapkan ke dadaku, sakit rasanya. Ibuku hanya diam, tatapannya sama. Semenjak kepergian ayahku hidupku berubah.

Ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin yang kelima kalinya pamanku kembali ke rumah. dia banyak bicara kepada ibuku yang terkadang pikun. Sudah sekian kali aku pun menasehati ibu, namun kadang ibu lupa.

Masuk pintu tol, di tengah perjalanan, kubuka ponselku tuk mencari kembali rumah yang akan dijual. Pikiranku kacau, hanya ku ketik rumah dan lokasi rumah. Jiwaku hancur, sangat hancur. Masih terngiang perkataan-perkataan mereka diruangan itu. Dan ibu tatapannya sama.

Lalu kulanjutkan perjalanan dengan ponsel digenggaman. Menelusuri rumah itu di gps. Seandainya saja ayahku masih ada. Aku tak akan begini. bahkan untuk kembali kerumah pun berat rasanya. Dan adikku seolah memanfaatkan keadaan. Lamunanku terburai ketika salah satu pengendara dibelakang membunyikan klakson dengan kencang, aku berjalan terlalu pelan. Aku lanjutkan mencoba mengontrol emosiku.

Entahlah apa yang ada dipikiranku niat untuk membeli sebuah rumah dengan tidak memiliki uang. Uang Seratus ribu disaku ku mungkin hanya cukup untuk hari ini saja. Yang ada di pikiranku, semua tubuh yang aku miliki saat ini, dan sebuah mobil, aku tetap berusaha. Seadanya.

Tak lama kemudian, telepon berdering dari Ana. Kubasuh air mata lalu ku jawab telpon Ana.

Anna   : Ratih lo lagi dimana?
Aku     : Hai Ana, aku menuju Depok. Jawabku datar
              Apa kabar rumahmu, sudah ada yang cocok kah? aku pun berharap
Anna  : Belum ada tih, satu pun belum ada
Aku    : Anna nanti aku telpon lagi ya, aku sedang dijalan. Ana pun mengiyakan nya

Harapan dari ana pun kandas. Aku terus berpikir. Lalu aku ingat Bela. Aku pun langsung menelponnya dan menanyakan rumah kosannya yang akan dia jual. Hal sama yang kuterima baik Anna dan Bella rumah mereka belum ada yang berminat. Tamat batinku lirih.

Ibu. Aku menangis bila mengingat ibu. Karena hasutan paman ibuku seperti orang lain. Tiba di sebuah perumahan yang dulu aku dan ayahku pernah kesini. Hanya sekedar melihat-lihat perumahan yang lumayan jauh dari jalan utama dengan beberapa rumah. 

"Ratih" seseorang memanggilku tak lama aku menutup pintu mobil.

Ternyata Pak Romli yang dulu pernah kami temui. Saya pun di ajak ke ruangannya dan aneh, beliau mengucapkan bela sungkawa. 

Pak Romli  : "Ratih saya tahu semuanya" mengawali perbincangan 

Dia pun menceritakan semuanya. 


30 April 2019 Ade Nugraha




POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

Sudah dua tahun saya bekerja sebagai petugas kebersihan di ibukota. karena saya lulusan sd sangat sulit sekali untuk mencari pekerjaan. sampai akhirnya nasib saya hingga saat ini mentok di petugas kebersihan. Umur saya 31, orang tua saya sudah meninggal dua-duanya dan kini saya tinggal bersama saudara saya di sebuah gubuk pinggiran Jakarta. 11 tahun yang lalu ayah saya meninggal dan saya masih ingat dengan pesan terakhir beliau, yaitu jangan berurusan dengan polisi.

Setiap pagi pukul lima saya sudah berada di jalanan ibu kota. membersihkan daun daun yang berserakan di pinggir jalan. pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas saya sehari hari. Sesekali saya memandang pos polisi yang berisi 4 orang polisi yang sedang berbincang bincang. Entah mengapa memandang pos polisi tersebut seperti memandang hal baru setiap harinya. 

Teringat ketika saya sedang bersama ayah , ibu dan kaka saya ketika kami pergi untuk menjenguk saudara kami di Subang. waktu itu ayah saya untuk pertama kalinya menyewa mobil Carry dan ayah sendiri yang mengemudikannya. Kami sangat senang sekali untuk pertama kalinya walau dengan duit pas-pasan ayah beserta keluarga kecilnya bisa ke rumah saudaranya. Namun alangkah kagetnya di tengah perjalanan mobil kami distop oleh mobil polisi dan mereka pun melangkah menghampiri ayah tercinta kami. saya yang duduk di belakang mengintip ayah saya dan polisi itu, tangan saya gemetar, kaki saya juga. mata saya berlinang air mata melihat ibu saya teriak histeris. Kakak saya hanya diam saja. dan ayah saya , saya melihat ayah mengeluarkan uang seratus ribunya dari dompet. 

Pekerjaan saya selain membersihkan, juga merapihkan tanam-tanaman yang ada di sekitar jalan. pekerjaan inilah yang saya suka, tanaman tanaman yang dipinggiran jalan sudah saya anggap seperti tanaman sendiri. saya perlakukan seperti tanaman saya di gubuk. Kadang saya bawa gunting taman, kadang juga hanya bawa arit saja. sesuai kebutuhan.

Hari yang cerah pukul 7 pagi. aktifitas ibukota yang gemuruh setadi pagi karena jam kerja sudah mulai kembali. lalu lalang kendaraan sudah tidak asing bagi saya. dan setiap memandang pos polisi itu seperti hal yang baru bagi saya setiap pagi. saya perhatikan dari kejauhan. saya perhatikan tingkah tingkah polisi polisi yang ada di pos itu.

Kembali ke cerita ayah dan ibu, sewaktu kami masih tinggal di desa dan saya masih kecil dihimpit diantara ibu dan ayah saya melajukan sepeda motor. Lalu ada seorang seorang polisi mengejar kami dan menanyakan surat surat stnk dan sim. Ayah saya waktu itu memang tidak punya sim dan percekcokan pun terjadi. Dan saya melihat ayah saya ditampar oleh polisi tersebut. Disaat itulah semenjak masih kecil apabila bertemu dengan polisi badan saya gemetar dan keluar keringat dingin hingga sekarang trauma itu masih tersimpan. 

Gunting taman, ya, sebuah gunting taman yang saya bawa dan perlahan saya mencoba mendekati pos polisi itu. karena tanam-tanaman yang dekat dengan pos polisi tersebut memang tidak pernah saya jamah, karena teman saya yang biasa membantu saya sedang sakit. Jadi untuk kali ini saya memberanikan diri.

Gunting taman ini lumayan besar kurang lebih panjangnya 60cm. Tadi malam gunting taman ini saya asah hingga tajam. dari kejauhan hingga mendekati pos polisi tersebut saya memandang, memandang seperti hal yang baru. Kali ini hanya ada seorang polisi yang sedang merokok, dan saya tidak mengenal namanya. di belakang pos polisi saya perhatikan tanaman saya dan merapihkan daun-daun yang sudah panjang. 

Sudah tajam, gunting taman ini sangat tajam. lalu saya membalikkan arah ke seorang polisi tersebut dan menancapkannya ke leher polisi itu. Darah segar pun berceceran. Sepertinya sekali gerakan saja polisi tersebut langsung tidak berdaya. Tubuhnya berlumuran darah. Lantai pos polisi ini pun penuh dengan darah. Melihat pos polisi ini seperti hal baru bagi saya beserta darah dan tubuh yang tergeletak tak berdaya. Dibelakang saya ada ayah dan ibu saya. mereka hanya menatap pos polisi tersebut, seperti saya dan tangan mereka memegang bahu saya dengan lembut.

"Mas Iman, ... mas" , seseorang memanggil nama saya dari belakang.

Saya pun terbangun dari lamunan dan alangkah kagetnya ternyata orang yang memanggil nama saya tersebut adalah polisi yang tadi ada di depan saya. saya pun melihat namanya Ferry Irawan, seperti nama ayah. Saya sangat kaget beliau tau nama saya.

"Bagaimana bapak bisa tau nama saya?"  saya bertanya heran.
"Saya tau nama mas dari teman mas Wandi yang sering ada disini" Polisi itu menjawab.

Saya lihat gunting taman menempel di salah satu batang tanaman di bawah dan polisi itu dengan menjinjing sebuah plastik menawarkan nasi uduk kepada saya. Lalu kami pun berbincang-bincang di pos polisi ini. Gemetar tubuh saya perlahan hilang seiring dengan obrolan hangat kami.

Ade Nugraha 
11 Maret 2015

MERINDUKAN DI KOTA SHIMIZU

MERINDUKAN

Kilauan cahaya Kota Shimizu
Antara maghrib dan Isya
Hayalanku disana bersamamu
Kehangatan di kamar tidur kita

Kembali ke lautan yang hampa
Dan kan kukatakan nanti,
Tentang kita, dan setelah kita
Cukuplah di pantai saja

Lalu perjalanan ini
Setelah semakin jauh menuju Alaska
Kanada, Hawaii dan Australia
Semoga kita
Berpeluk hangat kembali




Golden Princess
Shimizu, 28 April 2018
Ade Nugraha

TERJEMAHAN CERPEN "THE TELL - TALE HEART"

Terjemahan Cerpen "The Tell - Tale heart" 
Karya 
Edgar Allan Poe

Ceritaan – Ungkapan hati

Benar! Gugup, sangat menakutkan yang saya alami; tapi mengapa yang kau katakan aku gila? Penyakit itu telah masuk ke pikiranku, tidak merusak, tak buat aku dungu. Semua itu adalah perasaan yang amat gawat. Aku dengar semua hal di surga dan di bumi. Aku tau semua tentang neraka. Lalu bagaimana saya bisa marah? Mendengarkan! Dan mengamati dengan jernih, dengan tenang, akan aku ceritakan semua kisahnya.

Sangat tidak mungkin untuk menceritakan pertama kali ide itu muncul, tapi, satu hal, yang menghantui siang malam. Tidak ada objek. Tidak ada cara. Aku cinta lelaki tua itu. Ia tidak pernah menyalahkanku. Ia tidak pernah menganiayaku. Untuk emasnya aku tak ada keinginan. Mungkin matanya! ya, itu dia! Matanya menyerupai burung hering itu. Mata biru yang pucat. Kapanpun terasa masuk ke darahku berlari dingin, dan juga secara bertahap, aku buat pikiranku untuk hidup bersama lelaki tua itu, hal itu melemparkanku pada kehidupan mata hering itu.

Sekarang ini intinya. Kau menghayal aku gila. Lelaki gila tak tau apa-apa. Tapi kau harusnya melihatku. Kau harusnya melihat betapa bijaksananya aku  memulai semua ini —dengan peringatan apa—dengan meninjau masa depan mana, dengan pura-pura yang mana, aku pergi bekerja! Aku tidak pernah mengambil tindakan kepada lelaki tua itu sampai selama seminggu sebelum aku bunuh dia. Dan setiap malam, tengah malam aku buka pintu kamarnya dengan hati-hati! Kemudian, ketika pintu terbuka cukup masuk kepalaku, aku letakan berdekatan dengan lentera yang gelap, dekat sehingga tak ada cahaya keluar, lalu aku masukan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti tertawa melihatku dengan cerdik memasukan kepalaku kedalam! Pelan, sangan pelan, sehingga tak mengganggu lelaki tua itu yang tertidur. Berjam-jam aku lakukan itu, untuk membuat kepalaku seluruhnya masuk sampai aku melihatnya tertidur di ranjang. Ha! Akankah lelaki gila ini mengetahui sat saat seperti ini? Aku baru saja membukanya sehingga sinar tipis mengena pada mata burung hering. Yang ini aku lakukan untuk malam panjang yang ke tujuh, setiap malam setiap tengah malam, tapi mata itu selalu tertutup, hal yang mustahil untuk melakukan sesuatu, untuk itu bukan lelaKi tua yang menyakitiku tapi mata setannya. dan setiap pagi, ketika hari terjatuh, aku pergi ke kamar dan berkata dengan berani kepadanya, memanggil namanya dengan keras, dan menyelidiki bagaimana ia melewati malam. Setiap jam 12 aku lihat dia ketika tidur.

Malam yang ke 8, aku lebih biasakan membuka pintu. Tiap menit bergerak cepat daripada yang dirasakan. Belum pernah sebelumnya malam itu aku merasakan kehadiran dari kekuatanku sendiri, dari kecerdikanku. Aku hampir menang. Berpikir membuka pintu sedikit demi sedikit, dan ia bahkan tidak memimpikan rahasia perbuatanku. Aku tertawa kecil dengan ide ini, dan barang kali ia mendengarku. Sekarang kamu mungkin berpikir aku menggambarkan yang lalu- tapi tidak. Kamarnya gelap. Dan juga saya tahu bahwa ia tidak akan melihat ketika aku membuka pintu dan terus membuka perlahan.

Aku telah masukkan kepalaku, dan membuka lentera, ketika aku memegang tali timah, dan lelaki tua itu terbaring di kasur, teriak, siapa itu?

Aku diam. Diam lama sekali. Saat itu juga aku tak mendengar ia turun dari ranjang. Ia masih berada di ranjang, mendengarkan; yang baru saja aku lakukan tiap malam.

Segera, aku dengar rintihan, dan aku tahu itu adalah rintihan dari sebuah teror. Bukan rintihan rasa sakit atau sedih. Oh, tidak! Suara itu adalah suara tak berdaya yang ku dengar. Aku tahu suara itu. Banyak malam, baru saja, ketika semua tertidur, mengalir didada, sangat dalam, dengan rintihan itu, teror itu menggangguku. Aku tahu betul. Aku tahu yang dirasakan oleh lelaki tua itu, aku kasihan padanya walau hatiku mengeluh. Aku tahu bahwa ia sudah pernah berbohong sejak ketika pertama kali gaduh saat beranjak dari tempat tidur. Ketakutannya sedang tumbuh. Ia mencoba berhayal tanpa sebab, tapi gagal. Ia berkata pada dirinya “ Itu adalah tak lain hanya asap dari cerobong, itu hanya tikus yang berjalan di tembok”.  

Ketika aku telah menunggu lama waktu dengan sabar tanpa tatap muka dia berbaring, aku memecahkan untuk membuka suatu sedikit-- seluruhnya, sangat kecil celah di dalam lentera itu. Maka saya membuka itu-- kamu tidak bisa membayangkan bagaimana pelannya, diam-diam-- sampai sinar suram tunggal seperti benang laba-laba memancar dari celah dan menyerang mata burung manyar itu.

Terbuka, lebar, terbuka lebar-lebar, dan aku bergerak sangat hebat dan menatap di atas nya. Aku lihat ia dengan jelas sempurna-- semua luka yang biru tumpul dengan dengan selubung yang mengerikan di atas itu kedinginan itu seluruh sumsum di dalam tulang ku, tetapi aku bisa lihat tidak ada yang lain untuk orang atau wajah yang tua, karena aku telah mengarahkan sinar itu seolah-olah oleh naluri yang dengan tepat ketika noda yang terkutuk itu.

Dan sekarang aku menceritakan kepada kamu bahwa apa yang kamu salah kira untuk kegilaan ini tidak lain dari over-acuteness pikiran sehat? sekarang, aku katakan, disana datang kepada telinga ku adalah suatu bunyi; serasi cepat yang tumpul, seperti suatu penantian membuat ketika kapas dibungkus. Aku mengetahui bahwa bunyi; serasi yang baik juga. Itu adalah pukulan jantung yang tua. Itu meningkat amukan ku ketika pukulan suatu drum merangsang prajurit itu ke dalam keberanian.

Jika kamu masih berpikir saya gila, kamu tak akan berpikir lama ketika saya menggambarkan tindakan pencegahan di dalam persembunyian. malam semakin larut, dan aku harus cepat, tetap pelan.

Aku ambil 3 papan dari lantai kamar, dan menyimpannya diantara balok-balok. Lalu meletakkan kembali dengan rapi, sehingga tak ada orang yang dapat mengetahuinya. Tak ada sisa noda darah sedikitpun. Aku sangat hati-hati.

Ketika semuanya akan berakhir, jam 4 pagi, masih gelap. Ketika bel jam berdeting, ada seseorang yang datang. Aku turun dengan hati yang cerah., tak ada ketakutan? 3 pria, memperkenalkan diri dengan sopan, polisi. Tetangga mendengar jeritan malam tadi. Kecurigaan telah terjadi. Dan mereka pun ditugaskan untuk kesini.

Aku tersenyum, tak ada rasa takut? Aku tawarkan mereka masuk. Teriakan, aku berkata, itu suara ku ketika bermimpi. Lelaki tua, aku jelaskan, pergi ke daerah. Aku tawarkan mereka menggeledah rumah. Aku ajak mereka ke kamar lelaki tua itu. Aku tunjukkan miliknya, aman, tak ada yang rusak. Lalu aku bawakan mereka kursi untuk duduk istirahat, dan aku, dengan berani aku duduk di tempat papan bernoda tadi.

Caraku telah meyakinkan mereka dan mereka puas. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan aku jawab riang. Tapi, tak lama kemudian mukaku pucat karena ingin segera mereka pergi. Kepalaku sakit, dan berkhayal bunyi dering ditelingaku. Mereka tetap duduk dan berbincang. Bunyi dering itu makin jelas. Aku mencoba berkata lebih bebas. Tapi hal itu terus berulang pasti. Sampai, suara itu aku rasa tak ada di telingaku.

Sekarang aku sangat pucat. Tapi aku berkata lebih fasih, dan dengan suara yang meninggi. Apa yang harus aku lakukan? Aku menghembus, dan sebelum polisi mendengarnya. Aku berkata lebih cepat, lebih bernafsu namun tetap dengan suara bersahabat.      


SULUK MALANG SUNGSANG JILID KE-7 KARYA AGUS SUNYOTO



Novel terakhir jilid ke-7 karya Agus Sunyoto ini merupakan jilid terakhir dan diterbitkan oleh Pustaka Sastra (Kelompok penerbit LKiS) dengan judul Suluk Malang Sungsang “Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar”, sebanyak 658 halaman, 12 x 18 cm.  

Mengisahkan bagaimana perjalanan ruhani Suluk Malang Sungsang atau lebih dikenal Syeikh Siti Jenar ini mencapai perjalanan ruhani ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu Al fard (Yang Maha Sendiri). Juga mengisahkan kesimpang siuran Syeh Siti Jenar dibunuh oleh Dewan Walisongo di Mesjid Demak tidaklah benar. Tokoh yang mengaku ngaku sebagai Syekh Siti Jenarlah yang menyebarkan ajaran sesat itu yang dibunuh.

Dalam bab bab pertengahan dijelaskan perlambang perlambang Nafs Nafs yang ada pada diri manusia. Serta bagaimana Nafs nafs ini satu persatu memperlihatkan wujudnya kepada Syaikh Siti Jenar, seperti ular belang (kuning, hitam, putih, merah) yaitu perlambang nafs Al-Hayawaniyyah anasir tanah bersifat zhulmun, yang berarti permata khayalan yang menyesatkan. Anjing berbulu hitam kemerahan, perlambang nafs Al-Ammarah, perlambang api yang selalu naik tegak lurus yang cenderung kepada perbuatan jahat, pamrih, ingin dipuji, nikmat badan dan ruhani. Anjing berbulu putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yaitu perlambang nafs Al-Lawwamah cenderung dengan rasa bangga , merasa paling benar, merasa paling hebat dan suka mencela orang lain. Dan seterusnya hingga perlambang ke-8, bayangan burung anqa yang tipis yang diliputi cahaya terang kebiruan perlambang nafs Al Kamilah.

Dalam novel ini juga menceritakan bagaimana kenyataan pahit penduduk Kozhikode, yang dikecam kegelisahan akibat tindakan tindakan orang Portugis yang ganas. Kemenangan peperangan Portugis di Kozhikode, berdampak buruk juga ke tanah Jawa. Dimana pengungsi pengungsi berdatangan ke tanah Jawa dan memberikan kebiasaan keyakinan yang menyimpang.

Percakapan orang Kaya Kenayan dengan Syekh Abdul Jalil tentang suatu negeri yang dikuasai oleh negeri lain dalam novel ini, sebagai berikut :

“Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?’ tanya Orang Kaya Kenayan.

“Ketidak mampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada yang Mahakuasa (al-Muqtadir).

“Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?’ tanya Orang Kaya Kenayan.

“Kalau terpaksa, kenapa tidak?” sahut Abdul Jalil datar. “Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dalam keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Maharajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah arti kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Maharajadiraja semesta; Rabb manusia, Maharajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. An-Nas: 1-6). Ya, bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsawanan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.”

Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?”
“Justru dibawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah, “ kata Abdul Jalil.

“ Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.”

“Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Maharajadiraja semesta; Dia, Maharajdiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), yang Maha Mengangkat (ar-Rafi’), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu’iz), Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu  sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.”

“Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan satu-satu Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan dimana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemimpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak dirampas dan dikuasai musuh,” papar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?’ tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik nafas berat dan kemudian menghembuskannya keras-keras.

“Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,” sahut Abdul Jalil dingin,”Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.”

“Maksud Tuan Syekh?”

“Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah penduduk negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran negeri ini sendiri dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?”


“Lantaran itu , o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, srigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah dimana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.”

RIWAYAT MAZHAB WALISONGO



Nagarakretabhumi 1.5 HAL 53 – 54

Oleh : Ayat Rohaedi

Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Bandung 1986

Diriwayatkan, bahwa dalam rangka penerapan hukum islam, para guru agama ada yang menganut mazhab Sapi’i, Hanapi, Hambali dan Maliki.

Sultan Demak dan para pembesar serta kepala wilayah dan banyak anggota kepala bersenjata menganut mazhab Hanapi. Adapun Sunan Jati adalah penganut Sapi’i. Begitu juga para putra, menantu, dan keturunannya serta para pembesar dan kepala wilayah yang ada di bawah pengaruh dan kekuasaan Sunan Jati di wilayah Jawa Barat dan di tempat-tempat lainnya lagi. (NKB 1.3. 51-52).

Adapun penganut mazhab Syiah yang disebarkan oleh Syeh Lemah Abang, kebanyakan murid-muridnya berada di Jawa Timur, antara lain Kiyageng Kebo Kenongo, Bupati Pengging, Pangeran Panggung, Sunan Geseng, Ki Lonthan, Ki Datuk Pardun, Ki Jaka Tingkir ialah Sultan Pajang, Kiyageng Butuh, Ki Mas Manca, Ki Gedheng Lemah Putih, Pangerang Jagasatru, Ki Gedheng Tedeng, Ki Anggaraksa, Ki Buyut Kalijaga, Ki Gedheng Sampiran, Ki Gedheng Trusmi, Ki Gedheng Carbon Girang, Pangeran Ccucimanah, Pangeran Carbon, Kibuyut Weru, Ki Buyut Kamlaka, Ki Buyut Truwag, Ki Buyut Tugmudal, Dipati Cangkwang, Pangeran Panjunan, Syeh Duyuskani ialah Pangeran Kajaksan, Pangeran Kejawanan, Dipati Suranenggala, Pangeran Mungsi, Ki Gedheng Ujunggebang, Ki Gedheng Panguragan, Ki Gedheng Ender, Ki Buyut Bojong, Ki Buyut Kedokan,, dan banyak lagi yang lainnya.

Mengenal penganut Hanapi, secara terperinci, disebutkan, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sultan Demak Raden Patah, Pangeran Sabrang Lor, Syeh Kuro, Syeh Majagung, Raden Sepat (Arsitek masjid Demak dan Cirebon), Sunan Kudus, Arya Penangsang, Syeh Benthong.

Sunan Kalijaga tadinya penganut Hanapi, namun setelah Syeh Lemah Abang meninggal, ia menjadi penganut Syiah. Juga Pangeran Trenggono, Kiyageng Sela atau Ki Jurumartani, dan Sutawijaya akhirnya menganut Mazhab Syiah.

Dengan demikian, ada tiga mazhab yang banyak penganutnya, yaitu mazhab Hanapi, Syafi’i, dan Syiah. Mazhab Syafei di Cirebon dan Jawa Barat lainnya, sedangkan mazhab Syiah banyak penganutnya di pedalaman Demak dan Jawa Timur, juga di pedalaman Cirebon dan Jawa Barat umumnya. Mazhab Maliki dan Hambali tidak banyak penganutnya.

TAK SELAMI LAUTAN

TAK SELAMI LAUTAN

Kapal yang bergerak perlahan
Dengan gelombang yang berirama
Dimalam hari kutermenung sendiri
Dilantai Enambelas kapal ini

Aku sesali sungguh
Mengapa aku tak selami lautan
Tuk bertanya pada paus, atau
Sekelompok ikan tuna yang berloncatan

Karena aku ingin tahu
Rahasia luasnya samudra
walau sudah lama sering kita berjumpa
Aku sesali keterbatasanku ini

Lalu kusadari keterbatasanku ini
Aku bukanlah apa apa ...
Aku tidak tahu apa apa ...

Grand Princess
26 Januari 2017
Pukul 19.13 menuju Puerto Vallarta

THE RAINBOW TROOPS BY ANDREA HIRATA

The Rainbow Troops, chapter 1: Ten New Students



THAT morning , when I was just a boy, I sat on a long bench outside of a school. The branch of an old filicium tree shaded me. My father sat beside me, hugging my shoulders with both of his arms as he nodded and smiled to each parent and child sitting side by side on the bench in front of us.

It was an important day: the first day of elementary school. At the end of those long benches was an open door, and inside was an empty classroom. The door frame was crooked. The entire school, in fact, leaned as if it would collapse at any moment. In the doorway stood two teachers, like hosts welcoming guests to a party. There was an old man with a patient face, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, or Pak Harfan—the school principal—and a young woman wearing a jilbab, or headscarf, Ibu N.A. Muslimah Hafsari, or Bu Mus for short. Like my father, they also were smiling.

Yet Bu Mus’ smile was a forced smile: she was apprehensive. Her face was tense and twitching nervously. She kept counting the number of children sitting on the long benches, so worried that she didn’t even care about the sweat pouring down onto her eyelids. The sweat beading around her nose smudged her powder makeup, streaking her face and making her look like the queen’s servant in Dul Muluk, an ancient play in our village.

“Nine people, just nine people, Pamanda Guru, still short one,” she said anxiously to the principal. Pak Harfan stared at her with an empty look in his eyes.

I too felt anxious. Anxious because of the restless Bu Mus, and because of the sensation of my father’s burden spreading over my entire body. Although he seemed friendly and at ease this morning, his rough arm hanging around my neck gave away his quick heartbeat. I knew he was nervous, and I was aware that it wasn’t easy for a 47-year-old miner with a lot of children and a small salary to send his son to school. It would have been much easier to send me to work as a helper for a Chinese grocery stall owner at the morning market, or to the coast to work as a coolie to help ease the family’s financial burdens. Sending a child to school meant tying oneself to years of costs, and that was no easy matter for our family.

My poor father. I didn’t have the heart to look him in the eye. It would probably be better if I just went home, forgot about school, followed in the footsteps of some of my older brothers and cousins, and became a coolie …

My father wasn’t the only one trembling. The face of each parent showed that they weren’t really sitting on those long benches. Their thoughts, like my father’s, were drifting off to the morning market as they imagined their sons better off as workers. These parents weren’t convinced that their children’s education, which they could only afford up to junior high, would brighten their families’ futures. This morning they were forced to be at this school, either to avoid reproach from government officials for not sending their children to school, or to submit to modern demands to free their children from illiteracy.

MENGUPAS NOVEL "THE COLLECTOR" BY JOHN FOWLES

THE COLLECTOR
A Novel By John Fowles 
Mengupas Isi Novel 





Manusia sering memiliki rasa ketertarikan terhadap sesuatu hal, entah itu hanya sekedar suka atau sangat suka hingga ingin mengoleksi sesuatu hal itu sebagai kepuasan batin dan rasa puas memiliki sesuatu itu. Rasa puas itulah yang kadang mendorong manusia untuk memiliki, hingga manusia menjadi terobsesi dan merasa wajib mendapatkan apa yang manusia itu inginkan. Dan tak jarang rasa obsesi itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan orang lain seperti yang ada didalam novel The Collector ini.

Latar belakang kehidupan seseorang juga memberikan dampak yang sangat kuat bagi kehidupannya. Sebagai contoh : caranya berkomunikasi terhadap lingkungan, caranya beradaptasi, berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, dan sebagainya.

Alasan mengapa penulis mengambil judul ini, karena obsesi yang ditunjukkan oleh tokoh pria dalam novel The Collector ini sangatlah tidak wajar tetapi menarik untuk ditelaah.

Novel The Collector sendiri ditulis oleh John Fowles. Beliau dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1926 di Leigh-on-Sea, sebuah kota kecil yang berada sekitar 40 mil dari kota London, Inggris. Beliau menganggap bahwa kebudayaan Inggris pada tahun 1930 sebagai sesuatu yang ......... dan beliau juga menganggap bahwa kehidupan keluarganya masih sangat kuno dan religius. Pada masa kanak-kanaknya, beliau pernah berkata kepada dirinya sendiri, “I have tried to escape ever since”.

Fowles bersekolah di sekolah Bedford, yang juga merupakan sekolah berasrama yang dibuat untuk menyiapkan anak laki-laki sebelum mereka masuk ke perguruan tinggi, dari umur 13 tahun hingga 18 tahun. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Edinburgh, Fowles masuk militer pada tahun 1945 dan memulai latihan militernya yang pertama kali di daerah yang bernama Dartmoor, tempat dimana beliau menghabiskan waktu selama dua tahun. Perang Dunia ke-II berakhir setelah beliau melakukan latihan perangnya. Oleh karena itu, Fowles tidak pernah ikut perang, dan pada tanggal 1947 untuk meninggalkan dunia militer karena beliau menganggap bahwa dirinya merasa tidak cocok dengan dunia militer.

Kemudian Fowles menghabiskan 4 tahun waktunya di Universitas Oxford, dimana ia belajar terntang menulis. Ia juga pernah mengikuti beberapa kursus mengajar.

Banyak dari hasil karyanya yang terkenal. Novelnya yang berjudul The French Lieutenant’s Woman pada tahun 1969 merupakan novelnya yang terlaris di dunia. Pada tahun 1970, ia bekerja pada banyak proyek-proyek literatur. Novel The Collector ini merupakan salah satu dari novel-novelnya yang terkenal.

Fowles meninggal pada tanggal 5 November 2005 setelah sakit berkepanjangan.

Novel The Collector sendiri merupakan novel yang sangat disukai oleh para pecinta buku. Terbukti lebih dari 1.500.000 kopi laris terjual.


Novel ini bercerita tentang anak muda yang kesepian yang bernama Frederick Clegg, 
(Halaman 150-200)


SINOPSIS

Pada 50 halaman ini, berisikan tentang usaha-usaha Miranda untuk meloloskan diri dari sekapan Clegg dan berisikan cerita-cerita masa lalunya Miranda.

Miranda mulai menganalisa psikologis Clegg, yang terkadanag bersikap seperti orang normal, terutama pada saat sedang duduk berdekatan.

Pada saat Miranda berpikiran untuk membuat terowongan disekitar pintu, dan ia pun mulai mengumpulkan alat-alat yang mungkin berguna untuk menggali terowongan yang sedang ia pikirkan, dari pecahan gelas, garpu, dan dua buah sendok teh yang terbuat dari aluminium untuk menghancurkan semen yang melapisi lantai tempatnya ia disekap. Dan akhirnya ia pun menemukan sebuah paku yang ia pikir berguna untuk rencananya.

Ternyata paku tersebut tidak berguna, karena tidak dapat menghancurkan semen tersebut, bahkan untuk melepaskan satu buah batu saja memakan waktu satu jam. Miranda pun mulai berpikir kalau ia tidak akan bisa lolos, dan pada akhirnya, Miranda memasang kembali batu tersebut ketempat awalnya dan mencoba merapikannya, membuatnya seolah-olah batu tersebut tak pernah terlepas dengan menggunakan bedak yang dicampur dengan semen. Akan tetapi ternyata Clegg menyadarinya, Miranda pun melemparkan paku tersebut kepada Clegg, lalu Clegg pun menyemen kembali batu yang sudah dirusak oleh Miranda sambil mengatakan kalau disekeliling tempat tersebut terdapat batu kapur yang keras dan sulit dihancurkan.
   
Miranda mulai melemparkan benda-benda disekitar tangga, lalu Clegg pun membuatnya berhenti melemparkan barang-barang.

Miranda belum menyerah, percobaannya yang kedua adalah dengan cara berpura-pura sakit, dan mengatakan kalau ia harus dibawa ke rumah sakit, lalu Clegg pun berlari keluar dengan meninggalkan pintu terbuka, pada saat itulah Miranda tak dapat menahan dirinya untuk kabur, akan tetapi pada saat Miranda membuka pintu untuk keluar rumah, Clegg ternyata sudah menantinya sembari memegang sebuah palu. Miranda pun berpaling dan berlari masuk ke ruangan tempatnya disekap. Hal ini disebabkan karena Clegg sudah tidak percaya lagi pada Miranda gara-gara percobaannya untuk kabur yang pertama.

Pada 50 halaman ini juga Clegg membacakan isi dari surat-surat yang dikirimkan oleh bibinya dari australia tentang bahagianya bibinya tinggal disana. Pada saat yang sama, Miranda merasa kalau dirinya seakan masih terjebak dengan masa lalunya, dia selalu teringat pada saat dirinya belum diculik oleh Clegg.



Konflik

Ada beberapa konflik yang terjadi pada bagian ini, antara lain :

Man Against Man

Pada saat G.P berdebat dengan Piers, mengenai perbedaan pandangan seni masing-masing. “…I Think you’re the smuggest young layabout I’ve met before.”

Miranda berpendapat kalau bibinya Clegg tidak memperlakukan Clegg dengan baik, dan hal itulah yang menjadi dasar psikologis Clegg. “…She made an absolute fool out of you.”

Saat Miranda marah-marah pada Clegg setelah Miranda melemparkan barang-barang yang ada di sekitar tangga. “…I lectured him. I told him all about himself.”

Man Against Himself

Saat Miranda tak bisa menahan dirinya untuk kabur pada saat Miranda berpikir Clegg akan membawanya ke rumah sakit. “…I couldn’t bear the suspense. I pulled the door and rushed out.”

Saat Miranda merasa cemburu dan kesal terhadap Antoinette, namun ia tetap harus mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Antoinette padanya. “…I forced myself to meet, to listen to Toinette.”

Saat Miranda kebingungan akan perasaannya terhadap G.P., dia sendiri meragukannya. “…All the time I kept. "

thinking, do I love him? Then, obviously, there wasso much doubt, I couldn’t.”

Man Against Environment

Saat Miranda mencoba membuat terowongan untuk dirinya kabur, ia melakukannya sampai tangannya terluka. “…I tried to force it with the nail, and managed to hurt my hand.”
Miranda membenci orang-orang yang G.P. juluki sebagai New People. “…I hate what G.P. calls the New People, the new class people with their cars and their money.”


Setting/Latar

Tempat :
England
Bunker “…He bought me supper down here.”
Waktu :
Morning, Afternoon, Midnight.

Symbol dan Irony

Symbol
“…You’d be bloody bore if you weren’t so pretty.”

Verbal
Saat Miranda yang tak pernah berharap untuk jatuh cinta pada orang lebih tua. “…Two years ago I couldn’t have dreamed to falling in love with an older man.”

Irony Of Situation

Saat Miranda disekap oleh Clegg, ia tak bisa kabur dan menderita. Akan tetapi ia merasa senag saat Clegg pulang dan memberinya banyak hadiah. “…I shouldn’t but I like it when he comes in at lunchtime from wherever he goes. There are always parcels.”

Saat Miranda merasa kalau dirinya masih terjebak dimasa lalunya sendiri. “…But it seems a sort of magic, to be able to call my past back. And I just can’t live in this present.”

Dramatic

Saat Clegg membiarkan Miranda menang dalam permainan catur. “…He let me beat him. He wouldn’t admit it, but I am sure he did.”





Ditulis oleh : 


Ade Nugraha
Noviandi
Wendy Gustiawan



12 November 2008 

SEPENGGAL CERITA INAH

Inah berjalan menapaki jalan setapak dalam hutan yang lebat itu. Sambil tergopoh-gopoh Inah berusaha untuk terus melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai gelap. 

Terbayang dalam ingatan Inah wajah suaminya yang menyambut kedatangannya tahun lalu. Keceriaan dalam kerinduan yang terpendam sejak sekian lama. 


Namun apa yang dialami Inah saat ini sungguh memilukan hati Inah. Dompet dan tas Inah telah dirampok oleh sekelompok preman dekat terminal bus.

Sudah setengah hari Inah berjalan. Walau pun Inah mengenal tempat ini, akan tetapi perjalanan yang panjang harus Inah lalui hingga tiba di rumah. Air matanya tak terasa jatuh. 

Tiupan angin dingin menerpa tubuhnya. Bukan hanya dirampok akan tetapi Inah juga telah dinodai oleh kelompok preman itu. Desiran suara daun tak terasa indah, suara daun yang diterpa angin semakin menyayat batin Inah. Dingin dalam hutan itu sedingan jiwanya kini.

Hari yang kelam, tak terbayangkan suasana indah bertemu dengan suaminya berbalik dengan suasana yang penuh dengan derita dan nestapa. Setiba dirumah Inah mengetuk pintu dengan sisa tenaganya. Seketika itu pula Inah jatuh pingsan.

Mata Inah sedikit terbuka. Suara yang memanggil namanya sedikit demi sedikit terdengar jelas ditelinganya. Suara itu berasal dari suaminya, menepuk-nepuk pundaknya sambil menyodorkan segelas teh hangat.

"minum dulu teh hangat ini" suaminya berkata

Ia belum bisa berkata apa-apa walau suaminya sedikit melontarkan pertanyaan tentang apa yang terjadi. Inah hanya terdiam. Menikmati sisa tenaganya.

Inah tersenyum ketika suaminya melangkah ke depan rumah karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan suaminya. Ia berangsut dari perbaringannya dan duduk di dekat meja. Suasana rumah ini seperti istana bagi Inah. Tumpukan kayu bakar tertata rapi seperti dulu, hangat tungku api sehangat pelukan suaminya. 

Di dapur itu Inah mengenang masa lalu berdua dengan suaminya.  Ia mengingat kembali ketika suaminya menggendong dari dapur hingga menuju kamar mereka. Ingatan manis itu masih terukir jelas. Suara daun, desiran angin terdengar indah dalam dapur itu.

Setelah meneguk kembali teh hangat yang berada di tangannya, inah beranjak berdiri dengan sisa kekuatannya. Lalu, ia bergerak pelan ke belakang rumah lewat pintu depan. Suami Inah sedang mencangkul di sawah di depan rumah inah. 

Inah hanya tersenyum, lalu melanjutkan tujuannya ke belakang rumah. Desiran angin memberikan tenaga untuk untuk Inah, gemericik air di sawah menyejukkan hati Inah. Batinnya tenang setenang gerakan daun yang melambai. Di belakang rumah reod itu Ia lalu duduk berjongkok di depan makam suaminya tercinta. Hatinya tenang. 

Inah tersenyum.





26 Agustus 2010Penulis : Ade Nugraha