SUSU YANG TIDAK PERNAH JADI


Selasa 09 Juni 2020 Pukul 05.00 WIB

Selamat pagi sobat mimpi tadi malam, mimpi kali ini saya akan menceritakan perjalanan ke kampus dari rumah. Kala itu kami sedang menghadapi ujian.

Berawal dari rumah, temanku Bojong datang ke rumah dengan pakaian biasa casual. Dia datang ke kamarku yang sedang sibuk mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, layaknya jaman waktu kuliah kalau mau ujian itu mengenakan hitam putih. Karena buru buru dasi hitam belum dikenakan dan masih berada di genggaman. Aku bawa tas hitamku dan buru buru pamit kepada ayah dan ibuku.

Kami berdua pun pamitan bersalaman dan ayahku berkata agar berhati hati di jalan. Pagar rumah warna hitam itu mirip sekali dengan mimpiku di bulan yang lalu. Masih dengan situasi yang tergesa Bojong jalan duluan di depanku. Aku pun mengikutinya sambil menggerutukan sesuatu entah apa itu yang tidak aku sukai. Diperjalanan aku merasakan Bojong tidak menyukaiku karena keluh kesah ku itu.

Tiba disebuah pelabuhan. Aku memandang luas lautan hingga terlihat garis horizontal tepi laut yang jauh disana. Dipelabuhan itu terlihat banyak sekali peti kemas peti kemas yang tertata rapih berwarna merah.

Perjalanan kami lanjutkan. Dan aku masih menggerutu sambil jalan dengan keluh kesah. Kami tiba disebuah perempatan yang ditengahnya terdapat sebuah tugu dan jalanan jalanan kecil ke setiap arahnya, yang tiap sisinya dibatasi dengan besi besi tralis. Jalan jalan kecil itu ramai sekali. Orang berlalu lalang seiring kami berdua pun melewatinya. Setelah belok ke kanan dari pelabuhan itu, di tugu itu kami sekarang belok ke kiri sambil berdesak desakan di tengah keramaian.

Setelah melalui tugu perjalanan masih sangat ramai namun tidak sempit lagi, hingga tiba di suatu tanah yang lebih rendah. Saya pun menuruni tanah itu, sekitar satu meter saja. Setelah berada di dataran tanah yang lebih rendah itu, aq melihat kembali ke arah atas tanah yang kulalui dan melihat Tomo dan istrinya berada disana setelah menaiki tanah itu. Aku melihat istrinya Tomo sedang hamil dan dia (Tomo) dengan penuh bangga mengusap usap perut istrinya yang sedang hamil itu.

Perjalanan kami teruskan ke sebuah ruangan seperti kandang sapi yang bersih dan modern. Disana kami bertemu dengan seseorang. Seseorang itu mengantarkan kami kesebuah ruangan lagi. Di ruangan itu terdapat sapi (Tapi sebenernya keledai) sebesar kambing dengan sebuah alat dipunggungnya (Seperti besi yang rata). Dan tiba tiba saja orang yang mengantarkan kami itu berkata "Susu yang tidak pernah jadi??" . Kami berdua pun memandang sapi itu ke bawah sambil berpikir inikah ujian itu? (Bagaimana agar susu bisa jadi?)

Lalu aku pun terbangun

MENANGIS DI ACARA BANSOS


Kamis Pukul 04.30 WIB Hari Kamis 04 Juni 2020

Di sebuah daerah telah terjadi bencana (tidak diperlihatkan bencana apa). Aku pun lekas pergi ke daerah itu. Aku melihat kebun pohon karet. Di tengah kebun itu terdapat sebuah restoran nyaman suasana rumah bambu yang  memiliki lapangan rumput di depannya. Lapangan rumput itu dialiri sebuah sungai yang jernih dan bebatuan kecil di sampingnya.

Setiba di kebun pohon karet itu, aku memandang satu jalan lorong setapak menuju ke jalan raya. Jalan lorong setapak itu telah rampung dikerjakan oleh dua orang yang tidak ku kenal. Jalan itu dibuat agar memudahkan akses ke dalam, karena tanah diantara jalan raya dan restoran itu sedikit memuncak. Jadi sekarang akses menuju restoran itu sudah mudah dilalui oleh siapa saja. 

Sambil memandang lurus lorong itu aku melihat salah satu orang yang membuat lorong itu. Beliau pincang dengan mengenakan pakaian yang lusuh. Aku pun berlari keluar jalan raya melalui lorong itu ingin melihat satu orang lagi yang membuat lorong tersebut. Beliau seperti tukang kopi keliling. Aku melihat beliau beranjak pergi dengan sepeda nya.

Setelah melihat kedua orang tersebut aku kembali masuk ke dalam melalui lorong itu dan menuju restoran bambu. Disana aku bertemu dengan beberapa orang yang sedang mempersiapkan masakan. Aku melihat salah satu diantara mereka yang memasak sangat gemuk sekali.

Setelah itu aku tiba tiba berada diantara barisan manusia manusia yang semuanya mengenakan pakaian putih di depan lapangan restoran itu. Aku berdiri lalu berjongkok di atas batu diantara aliran air yang sangat dangkal. dibayangan air itu di depan ku, aku melihat Opik Gimbal disana. Dia menghadapku lalu melemparkan air sungai dibebatuan itu ke empat arahnya. Arah yang terakhir ditujukan kepadaku. Dia melemparkan air jernih itu kepadaku seperti main kelereng. 

Ketika air itu datang tiba tiba aku pun menangis tersungkur di atas bebatuan kecil. Aku menangis tersedu sedu dengan tangan kanan melingkar dikeningku. Aku mengeluh betapa berat kehidupan ku. Lalu aku melihat Adi Romus dihadapanku dan dia berkata "Maneh sono nyah ka si Opik?"


Dan aku pun terbangun Pukul 04.30 WIB Hari Kamis 04 Juni 2020

Setelah bangun aku pun solat subuh. Lalu berbaring kembali sambil melihat lihat medsos di hp. Ketika melihat grup WA Sebaru Diamond Princess ada kabar yang sangat menggembirakan yang kami nanti nantikan. Dikabarkan sejumlah nominal bantuan dari perusahaan Cruise Line kami, mendarat di masing masing rekening kami. Saya sangat bersyukur alhamdullah dapat bantuan dana yang sangat besar ini. Alhamdulillah