SPIDERMAN FAR FROM HOME 2019

DILEMA SEORANG REMAJA SPIDERMAN FAR FROM HOME ?



Bagi anda yang masih remaja, selamat, film dari Marvel ini diprioritaskan untuk sobat sobat yang masih remaja. Walaupun tertera untuk semua umur, namun tetap menurut saya film ini cocok sekali untuk umur remaja. Kenapa tidak, emosional yang ditampilkan oleh tokoh utama dalam menghadapi keadaan yang sedang dia alami adalah masa kedilemaan seorang remaja. Mirip-mirip film anak-anak Home Alone yang ditinggalkan oleh keluarganya terutama orang tuanya, film ini juga yaaa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Remaja disini klo menurut sumber wikipedia: 

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa yang berjalan antara umur 11 tahun sampai 21 tahun.

Setelah menonton film terbaru dari Marvel ini hingga hit saat ini, bahkan saya menonton di Pondok Indah Mall Spiderman Far From Home ini dibuka sebanyak kalau tidak salah 3 atau 4 pintu teater secara bersamaan. wuih, booming banget ya sob. Dan rame banget, tiap pintu ramai dikunjungi semua tipe umur. Dari anak-anak hingga orang tua. 

Baiklah sob, saya akan menceritakan sedikit awal mula kedilemaan tokoh utama Peter Parker ini. Berawal dari seseorang, disini adalah Nick Fury, yang ingin berbicara lewat telepon selular melalui perantara asisten Tony. Peter Parker sebagai peran utama dalam film ini yang berstatus sosial sebagai remaja tidak menginginkan agar dirinya dilibatkan dalam aksi pahlawan sebelumnya. Ini sangat bertentangan sekali karena justru dia menginginkan untuk liburan bersama teman temannya terutama dengan MJ dan berwncana untuk menyatakan cinta di Menara Eifel Paris.

Keterlibatan Peran utama dalam mewarisi Avenger seolah hal yang mutlak untuknya dan beberapa kejadian yang secara kebetulan saling terkait membuat dirinya feustasi. Kemunculan tokoh Misterio dan kekaguman peran utama terhadap tokoh misterio ini membuat Spiderman salah langkah. Dia memberikan warisan kacamata yang bisa mengendalikan kekuatan Tony sebagai pemimpin Avenger. Disinilah puncak kedilemaan itu berlangsung sehingga membuat tokoh utama harus sesegera mungkin mengambil keputusan yang cepat. Disinilah kedilemaan tokoh utama itu diuji, akan tetap menjadi anak anak yang tanpa beban dan salah, atau berubah menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab. Bagaimana kelanjutan kisah tokoh utama dalam kedilemaannya itu, tonton segera sob filmnya.




PASANGAN TAK DIKENAL

Aku tidak tahu siapa dirinya, namun seolah kami saling kenal sejak lama. Dia mengajakku ke suatu tempat. Tempat rahasianya. Sebelum ku ikutinya lebih jauh, dia hanya bilang " tak usah ada bonus ya?" lalu aku pun bilang "kemarin, teman mu juga kasih bonus" , sambil kuperagakan sesuatu padanya. Lalu dia pun hanya tersenyum, dengan tangan membuka sebuah gembok besi.

Kuikuti dia yang diawali sebuah ruangan dengan tangga disudut pojoknya. Di ruangan itu ada seorang wanita yang sedang menonton tv. Wanita tua tak berdaya. Tangga yang pertama sungguh sangat berbeda dengan tangga yang lain. Tangga ini tinggi, mungkin dua meter. 

Aku pun menunjukkan kebolehanku dengan menaruh satu buah seperti sofa dan kuyakini sofa itu bisa membantuku dengan hal ini. Aku loncat mnginjak sofa itu dan meloncat ke tangga pijakan pertama. Kuikuti dia. Dia kembali bilang bahwa suaminya tidak ada. Suaminya kerja.

Setelah menaiki tangga yang berbelok itu, aku masuk disebuah ruangan yang bertangga kembali. Tangga yang menjulang ke atas 180 derajat. Kali ini bukan tangga biasa. Seperti berada disebuah menara atau pagoda. Ruangan itu pun terdapat 7 ruangan sempit yang memanjang ke atas. 7 tingkatan. Aku mengikuti di bawahnya.

Ditengah perjalanan, sambil kupijaki satu persatu anak tangga, kulihat seorang pria yang sepertinya adalah suaminya, namun aku tak menghiraukannya. Hingga tiba di ruangan ke-7, ruangan yang lebih luas. Dia meloncat ke sebuah beton kotak yang diantaranya adalah jurang. Lumayan renggang, mungkin sejauh tiga meter . Aku pun meloncat dengan sedikit ragu, walaupun akhirnya aku bisa juga. 

Alangkah kagetnya saat aku meloncat ke arahnya, dia meloncat ke arah ku. Sehingga ketika aku tiba di kotak beton itu, dia berada di sebrang. Sepertinya aku dijebak. Juga aku lihat suaminya yang dibawah tadi dengan dua buah pisau mulai berjalan ke arah ku dengan wajah garang.

Aku pun lari dan sekali lagi aku menunjukkan kebolehanku. Disaat dia mendekatiku, aku berubah menjadi anjing yang bisa menghilang sehingga dia tidak bisa menangkap ku. 

Senin, 01 Juli 2019
Pukul 01:30 WIB

SI DOEL ANAK SEKOLAHAN THE MOVIE 2

DILEMA TOKOH UTAMA DALAM FILM 
"SI DOEL ANAK SEKOLAHAN THE MOVIE 2"


Akhirnya saya menonton Si Doel Anak Sekolahan The Movie 2, setelah sekian lama mengalami kerinduan yang mendalam cieee .. 

Ya begitulah guys bagi anda yang rindu akan sinetron Si Doel kini kembali terobati yang kedua kalinya dengan adanya Si Doel Anak Sekolahan The Movie 2. Bagi saya film terbaru Si Doel ini pas sekali dengan karakter-karakter lama. Dialog dan Lattar yang ditampilkan tidak jauh seperti halnya Si Doel Anak Sekolahan di sinetronnya. Sepertinya sang sutradara menjaga sekali dan meminimalisir sekali segala bentuk perubahan yang bisa mengurangi nilai kepamoran film ini. Yang intinya seperti yang saya katakan dari awal, rindu itu pun terobati.


Pada awal cerita kita disuguhkan oleh penampilan-penampilan aktor dan artis yang sudah familiar bagi kita, seperti Mandra, Doel, Atun, Zaenab dan Mpok Aminah. Karakter mereka sesuai dengan porsinya masing-masing sehingga film ini masih nampak relevan sebagai film maestronya Rano Karno. Karakter Mandra yang lucu dan membuat pecah suasana ini sama persis seperti karakter -karakter sebelumnya. Seperti halnya ketika Doel dan Mandra pulang dari Belanda, Mandra berkata dengan sombongnya bahwa di Indonesia ini sangat panas sekali. 


Hal menarik adalah munculnya karakter Si Doel Junior, anak kandungnya Si Doel dan Sarah. Dilema Si Doel untuk menghadapi anaknya yang sudah lama tidak berjumpa sejak kecil membuat Si Doel tak tahu harus bersikap seperti apa karena posisinya sekarang sebagai suami Zaenab. Hal ini bisa di lihat dari percakapannya Si Doel Junior dan Si Doel di telepon.

Dering telpon dari Si Doel Junior


Doel              : Hallo

Doel Junior : Hallo, Papa sudah sampai Jakarta?
Doel              : Ada apa Nak? ada apa? Bertanya keheranan
Doel Junior : Ngga ada apa-apa. Kangen Papa aja. Oh iya Pah minggu depan itu aku libur. rencananya mau pergi ke Jakarta, sekalian mau nyari sekolah untuk aku nanti tinggal disana!
Doel             : Ya bagus kalau begitu. Sama siapa? dengan wajah kaget
Doel Junior : Sepertinya aku sendiri aja deh. Papah bisa kan jemput aku nanti di bandara?
Doel             : Hah .. Tambah kaget
Doel Junior : Bisa Papah jemput aku nanti? Bertanya polos
Doel             : Ya ya Papah tunggu kamu nanti di bandara. Tanpa berpikir panjang
Doel Junior : Apa aku bisa tinggal di rumah
Doel             : Hah ... Makin kaget
Doel Junior : Bisakan aku tinggal di rumah Papah? Bertanya kembali
Doel             : Iya iya nak kamu tinggal di rumah papah aja. Jawab dengan ragu
Doel Junior : Nanti kalau aku dan berangkat ke Jakarta, aku kabarin Papah lagi.
Doel             : Iya Nak


Menurut saya, inilah awal mula kedilemaan yang dihadapi oleh peran utama Doel, seolah-olah dihadapkan oleh keadaan yang tidak bisa ia hindari lagi, sehingga mau tidak mau ia harus menyelesaikan hal tersebut. Dengan karakter Si Doel yang baik, masalah yang sedang ia hadapi ini mengakibatkannya serba-salah. Disinilah keunikan film ini sehingga peran-peran pembantu sangat dibutuhkan dan berperan aktif muncul di setiap adegan sehingga tidak terlihat kaku. 


Peran pembantu yang aktif yang muncul disetiap adegan ini, seperti yang saya bilang di atas bahwa masing-masing tokoh memiliki peran sesuai porsinya. Seperti halnya antara Mandra dan Atun, apalagi antara Zaenab dan Sarah. Mereka para peran pembantu seolah-olah seperti bertentangan secara tidak langsung. Mandra dengan karakter sembrono dan cuek bersanding dengan karakter Atun yang perasa dan peduli terhadap abangnya. 


Menurut saya peran utama Si Doel ini merupakan peran yang sangat beruntung. Beruntung dari buah kesabarannya. Hal ini bisa dibuktikan dengan masalah yang sedang dihadapinya ini, peran pembantu sepertinya berandil besar dalam memecahkan masalah peran utama. Seperti contoh puncak konflik ketika secara tiba-tiba Sarah dan Doel Junior tiba dirumah Doel. Dan secara kebetulan Si Doel dan mandra sedang berada diluar rumah. Puncak masalah ini sekalian dengan akhir dari cerita Si Doel Anak Sekolahan The Movie 2 ini. 

Sarah : Doel ayo salam sama Ibu Zaenab. Sekarang kamu harus panggil Ibu yah! karena dia ibu kamu juga. Ayo sayang salam! Sarah berkata kepada Doel Junior

Lalu Sarah pun menyuruh Doel Junior bergabung dengan Kong Mandra dan Papahnya. Setelah berbincang sedikit dengan Doel, Sarah meminta izin kepada Doel untuk berbicara kepada Zaenab.

Zaenab : Sar 
Sarah    : Hai. Kenapa tangan kamu? Sarah bertanya
Zaenab : Gak apa apa
Sarah    : aku mau bicara sama kamu, sebentar saja!

Lalu mereka berdua duduk di ruang depan rumah.

Sarah : Nab. terima kasih ya. Selama ini kamu telah menemani Doel dan merawat Ibu. Aku bahagia Nab. Doel gak salah milih kamu. Dan aku minta, kamu mau menganggap Doel anakku seperti anak kamu juga ya! Kita ga mau bertengkar lagi seperti dulu kan!? Hei, kita sekarang sudah ga muda lagi. Kita harus bisa menanggapi semua ini secara dewasa. Aku juga mau mulai dari sekarang kamu mengganggap aku sebagai kakak mu. Aku juga sudah bilang sama Doel, supaya dia menganggap aku sebagai adiknya, sebagai saudara.

Zaenab : Sar. Aku menjalani ini semua dengan ikhlas. Aku merawat Enyak, hingga nemenin Bang Doel sampai kamu kembali lagi juga dengan ikhlas. Kalau kamu mau balikan lagi dengan Bang Doel, aku juga ikhlas. Aku tahu, Bang Doel masih mencintai kamu.


Sarah : Nab, aku datang kesini untuk ketemu ibu, ketemu Doel, dan ketemu kamu. kamu jangan berpikiran seperti itu. Kisah ku dengan Doel sudah menjadi  kisah manis di masa lalu. Kita resmi sudah berakhir Nab. Jadi, jangan pernah ada perasaan seperti itu lagi. Karena itu hanya akan buat resah hatimu saja. Kita sama-sama mencintai orang yang sama. Dan kita ga mungkin juga hidup sama-sama, iya kan? Jadi, diantara kita harus ada yang berani berkorban untuk cinta kita!


Dari cuplikan di atas, peran Zainab dan Sarah sangat penting dalam menyelesaikan masalah peran utama. Di akhir cerita yang merupakan akhir yang menggantung dimana kedilemaan cinta segi-tiga ini akan terus berlangsung. Sepertinya sang sutradara menginginkan agar penonton membayangkan dalam diri masing masing akhir cerita kisah cinta ini. Sehingga timbulah interpretasi yang berlainan, dan tentunya "Si Doel Anak Sekolahan" akan terus dinantikan kisah yang selanjutnya. Penasaran kan? 


Adapun pesan moral dalam film ini menurut saya adalah bahwa dalam menghadapi permasalahan di dunia ini harus dihadapi dengan sabar dan tetap berbuat baik apa pun kondisinya.


Enak ga jadi Doel ? Yang belum nonton film ini, segeralah menonton di bioskop-bioskop terdekat anda. Selamat menikmati.




INI ADALAH SANG BULAN

Kami semua menatap satu sisi langit yang sama
Disaat semua dalam keadaan gempita
Disebuah tempat yang jauh
Disebuah tempat yang asing

Kami semua menatap satu sisi langit yang sama
Sehingga berkumpul pada satu sisi bumi yang sama
Semua menatap ke arah langit itu
Dan sebuah bola yang bulat

Salah satu diantara mereka
Yang duduk di batas sisi bumi
berkata dengan suara ceria
Sungguh indahnya matahari kami

Dan aku
Menatap sendirian kebelakang
Hitam pekat pertanda malam, lalu berkata
Ini adalah sang bulan


Ade Nugraha
9 May 2019 14:58 WIB




ROHIMUDIN NAWAWI AL BANTANI

ULAMA INDONESIA YANG JADI IMAM BESAR DI MASJIDIL HARAM


Syeikh Rohimudin Nawawi Al Bantani merupakan salah satu ulama besar di Nusantara. Kiprahnya di dunia keagamaan menghasilkan murid-murid yang sangat tersohor seperti KH. Hasyim Asy'ari di Jombang Jawa Timur, KH. Kholil di Bangkalan Madura, KH. R. Asnawi di Kudus, KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, KH. Tubagus Bakri di Purwakarta, dan lainnya. Di awal isi buku ini menampilkan riwayat-riwayat murid-murid beliau di atas yang juga merupakan ulama yang terpandang.

Buku ini memiliki ketebalan 1.5 cm dan 296 halaman. Panjang 16 cm lebar 11 cm. Harga Rp. 65.000,- saja. Buku berwarna putih ini di cetak pada Februari 2017 oleh Mentari Media PT. Melvana Media Indonesia Depok Jawa Barat. Penulis adalah Rohimudin Nawawi Jahari Al bantani yang juga masih keturunan beliau. 

Menurut buku ini, beliau adalah ulama yang melahirkan banyak kitab dan tersebar keseluruh penjuru dunia dan menjadikan kitab-kitab rujukan di berbagai pesantren-pesantren Indonesia. Sebagaimana teolog Asy'ary lainnya, Imam Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim, yaitu Qadariyah dan Jabbariyah. 

Selain meriwayatkan murid-murid beliau yang termasyur, isi buku ini juga menjelaskan karya-karya beliau dan warisan keilmuan seperti di bidang fiqih, tauhid, tasawuf, hadist, sejarah dan bahasa. Dan dilanjutkan bagaimana pengaruh beliau pada masa itu dibidang fiqih, sosial politik, pendidikan, toleransi agama, bahasa, tasawuf dan bidang adab. 

Beliau sendiri, lahir pada tahun 1814 M (1230 H), di Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Banten bagian utara dan berpusara di Ma'la, Mekkah. Cerita bagaimana dikuburkannya di Mekkah merupakan karomah beliau yang akan dijelaskan dalam buku ini beserta karomah-karomah lainnya seperti menjadikan telunjuknya lampu, melihat Ka'bah dengan telunjuknya, mengeluarkan buah rambutan dari tangannya, menulis kitab sejak masih belia dan lain sebagainya. 

Demikianlah resensi buku Rohimudin Nawawi Al Bantani ini saya jelaskan dengan singkat. Diakhir bab dalam buku ini ditampilkan nasihat-nasihat dan kebijakan Imam Nawawi Al Bantani dalam Kitab Nasha-ihul Ibad. 


Sumber : Jahari, Rohimudin Nawawi. 2017. Rohimudin Nawawi Al Bantani. Depok. Mentari Media


LABA-LABA YANG MENAGIH HUTANG

Laba-laba itu yang mereka lukis di mobilku
Sedangkan aku berada disuatu tempat 
Berkumpul bersama yang lain.

Kami menatapi lukisan masing-masing dikejauhan
Ada harimau, ada gajah, ada kalajengking
Ada yang lain.

Ini bagaikan kehendak yang tak bisa ditawar
Setiap orang mendapatkan lukisan yang berbeda-beda
Dan harus membayar jasa lukis mereka.

Apakah aku suka?
Aku tak merasa itu harus disukai atau tidak
Yang jelas aku merasa ketakutan dan jijik

Aku berlari melewati sebuah jembatan yang ku kenal
Jembatan yang semasa kecil sering kulewati.

Laba-laba itu mengejarku mundur di depan
Seolah-olah aku yang mengejarnya.

"Aku tak mau bayar" Ucapku 
Laba laba itu pun menghilang sesaat
"Aku tak mau bayar" mantraku
Laba-laba itu pun kembali menghilang.

Dan tiba-tiba
Dia muncul di sampingku 
Mencengkram tangan kiriku.

"Aku jijik, aku takut, aku tidak suka laba-laba", teriak ku

Hingga istriku membangunkanku.



Bogor, 1 Mei 2019 04:19 WIB
Ade Nugraha







RUMAH DARI AYAHKU

Aku pun pergi dari rumah itu. Kutancapkan gas seolah tak mau dikejar. Mereka menatapku penuh dendam, tatapan keserakahan. Di ruangan itu makian dan hinaan terus menancapkan ke dadaku, sakit rasanya. Ibuku hanya diam, tatapannya sama. Semenjak kepergian ayahku hidupku berubah.

Ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin yang kelima kalinya pamanku kembali ke rumah. dia banyak bicara kepada ibuku yang terkadang pikun. Sudah sekian kali aku pun menasehati ibu, namun kadang ibu lupa.

Masuk pintu tol, di tengah perjalanan, kubuka ponselku tuk mencari kembali rumah yang akan dijual. Pikiranku kacau, hanya ku ketik rumah dan lokasi rumah. Jiwaku hancur, sangat hancur. Masih terngiang perkataan-perkataan mereka diruangan itu. Dan ibu tatapannya sama.

Lalu kulanjutkan perjalanan dengan ponsel digenggaman. Menelusuri rumah itu di gps. Seandainya saja ayahku masih ada. Aku tak akan begini. bahkan untuk kembali kerumah pun berat rasanya. Dan adikku seolah memanfaatkan keadaan. Lamunanku terburai ketika salah satu pengendara dibelakang membunyikan klakson dengan kencang, aku berjalan terlalu pelan. Aku lanjutkan mencoba mengontrol emosiku.

Entahlah apa yang ada dipikiranku niat untuk membeli sebuah rumah dengan tidak memiliki uang. Uang Seratus ribu disaku ku mungkin hanya cukup untuk hari ini saja. Yang ada di pikiranku, semua tubuh yang aku miliki saat ini, dan sebuah mobil, aku tetap berusaha. Seadanya.

Tak lama kemudian, telepon berdering dari Ana. Kubasuh air mata lalu ku jawab telpon Ana.

Anna   : Ratih lo lagi dimana?
Aku     : Hai Ana, aku menuju Depok. Jawabku datar
              Apa kabar rumahmu, sudah ada yang cocok kah? aku pun berharap
Anna  : Belum ada tih, satu pun belum ada
Aku    : Anna nanti aku telpon lagi ya, aku sedang dijalan. Ana pun mengiyakan nya

Harapan dari ana pun kandas. Aku terus berpikir. Lalu aku ingat Bela. Aku pun langsung menelponnya dan menanyakan rumah kosannya yang akan dia jual. Hal sama yang kuterima baik Anna dan Bella rumah mereka belum ada yang berminat. Tamat batinku lirih.

Ibu. Aku menangis bila mengingat ibu. Karena hasutan paman ibuku seperti orang lain. Tiba di sebuah perumahan yang dulu aku dan ayahku pernah kesini. Hanya sekedar melihat-lihat perumahan yang lumayan jauh dari jalan utama dengan beberapa rumah. 

"Ratih" seseorang memanggilku tak lama aku menutup pintu mobil.

Ternyata Pak Romli yang dulu pernah kami temui. Saya pun di ajak ke ruangannya dan aneh, beliau mengucapkan bela sungkawa. 

Pak Romli  : "Ratih saya tahu semuanya" mengawali perbincangan 

Dia pun menceritakan semuanya. 


30 April 2019 Ade Nugraha




POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

Sudah dua tahun saya bekerja sebagai petugas kebersihan di ibukota. karena saya lulusan sd sangat sulit sekali untuk mencari pekerjaan. sampai akhirnya nasib saya hingga saat ini mentok di petugas kebersihan. Umur saya 31, orang tua saya sudah meninggal dua-duanya dan kini saya tinggal bersama saudara saya di sebuah gubuk pinggiran Jakarta. 11 tahun yang lalu ayah saya meninggal dan saya masih ingat dengan pesan terakhir beliau, yaitu jangan berurusan dengan polisi.

Setiap pagi pukul lima saya sudah berada di jalanan ibu kota. membersihkan daun daun yang berserakan di pinggir jalan. pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas saya sehari hari. Sesekali saya memandang pos polisi yang berisi 4 orang polisi yang sedang berbincang bincang. Entah mengapa memandang pos polisi tersebut seperti memandang hal baru setiap harinya. 

Teringat ketika saya sedang bersama ayah , ibu dan kaka saya ketika kami pergi untuk menjenguk saudara kami di Subang. waktu itu ayah saya untuk pertama kalinya menyewa mobil Carry dan ayah sendiri yang mengemudikannya. Kami sangat senang sekali untuk pertama kalinya walau dengan duit pas-pasan ayah beserta keluarga kecilnya bisa ke rumah saudaranya. Namun alangkah kagetnya di tengah perjalanan mobil kami distop oleh mobil polisi dan mereka pun melangkah menghampiri ayah tercinta kami. saya yang duduk di belakang mengintip ayah saya dan polisi itu, tangan saya gemetar, kaki saya juga. mata saya berlinang air mata melihat ibu saya teriak histeris. Kakak saya hanya diam saja. dan ayah saya , saya melihat ayah mengeluarkan uang seratus ribunya dari dompet. 

Pekerjaan saya selain membersihkan, juga merapihkan tanam-tanaman yang ada di sekitar jalan. pekerjaan inilah yang saya suka, tanaman tanaman yang dipinggiran jalan sudah saya anggap seperti tanaman sendiri. saya perlakukan seperti tanaman saya di gubuk. Kadang saya bawa gunting taman, kadang juga hanya bawa arit saja. sesuai kebutuhan.

Hari yang cerah pukul 7 pagi. aktifitas ibukota yang gemuruh setadi pagi karena jam kerja sudah mulai kembali. lalu lalang kendaraan sudah tidak asing bagi saya. dan setiap memandang pos polisi itu seperti hal yang baru bagi saya setiap pagi. saya perhatikan dari kejauhan. saya perhatikan tingkah tingkah polisi polisi yang ada di pos itu.

Kembali ke cerita ayah dan ibu, sewaktu kami masih tinggal di desa dan saya masih kecil dihimpit diantara ibu dan ayah saya melajukan sepeda motor. Lalu ada seorang seorang polisi mengejar kami dan menanyakan surat surat stnk dan sim. Ayah saya waktu itu memang tidak punya sim dan percekcokan pun terjadi. Dan saya melihat ayah saya ditampar oleh polisi tersebut. Disaat itulah semenjak masih kecil apabila bertemu dengan polisi badan saya gemetar dan keluar keringat dingin hingga sekarang trauma itu masih tersimpan. 

Gunting taman, ya, sebuah gunting taman yang saya bawa dan perlahan saya mencoba mendekati pos polisi itu. karena tanam-tanaman yang dekat dengan pos polisi tersebut memang tidak pernah saya jamah, karena teman saya yang biasa membantu saya sedang sakit. Jadi untuk kali ini saya memberanikan diri.

Gunting taman ini lumayan besar kurang lebih panjangnya 60cm. Tadi malam gunting taman ini saya asah hingga tajam. dari kejauhan hingga mendekati pos polisi tersebut saya memandang, memandang seperti hal yang baru. Kali ini hanya ada seorang polisi yang sedang merokok, dan saya tidak mengenal namanya. di belakang pos polisi saya perhatikan tanaman saya dan merapihkan daun-daun yang sudah panjang. 

Sudah tajam, gunting taman ini sangat tajam. lalu saya membalikkan arah ke seorang polisi tersebut dan menancapkannya ke leher polisi itu. Darah segar pun berceceran. Sepertinya sekali gerakan saja polisi tersebut langsung tidak berdaya. Tubuhnya berlumuran darah. Lantai pos polisi ini pun penuh dengan darah. Melihat pos polisi ini seperti hal baru bagi saya beserta darah dan tubuh yang tergeletak tak berdaya. Dibelakang saya ada ayah dan ibu saya. mereka hanya menatap pos polisi tersebut, seperti saya dan tangan mereka memegang bahu saya dengan lembut.

"Mas Iman, ... mas" , seseorang memanggil nama saya dari belakang.

Saya pun terbangun dari lamunan dan alangkah kagetnya ternyata orang yang memanggil nama saya tersebut adalah polisi yang tadi ada di depan saya. saya pun melihat namanya Ferry Irawan, seperti nama ayah. Saya sangat kaget beliau tau nama saya.

"Bagaimana bapak bisa tau nama saya?"  saya bertanya heran.
"Saya tau nama mas dari teman mas Wandi yang sering ada disini" Polisi itu menjawab.

Saya lihat gunting taman menempel di salah satu batang tanaman di bawah dan polisi itu dengan menjinjing sebuah plastik menawarkan nasi uduk kepada saya. Lalu kami pun berbincang-bincang di pos polisi ini. Gemetar tubuh saya perlahan hilang seiring dengan obrolan hangat kami.

Ade Nugraha 
11 Maret 2015

MERINDUKAN DI KOTA SHIMIZU

MERINDUKAN

Kilauan cahaya Kota Shimizu
Antara maghrib dan Isya
Hayalanku disana bersamamu
Kehangatan di kamar tidur kita

Kembali ke lautan yang hampa
Dan kan kukatakan nanti,
Tentang kita, dan setelah kita
Cukuplah di pantai saja

Lalu perjalanan ini
Setelah semakin jauh menuju Alaska
Kanada, Hawaii dan Australia
Semoga kita
Berpeluk hangat kembali




Golden Princess
Shimizu, 28 April 2018
Ade Nugraha

TERJEMAHAN CERPEN "THE TELL - TALE HEART"

Terjemahan Cerpen "The Tell - Tale heart" 
Karya 
Edgar Allan Poe

Ceritaan – Ungkapan hati

Benar! Gugup, sangat menakutkan yang saya alami; tapi mengapa yang kau katakan aku gila? Penyakit itu telah masuk ke pikiranku, tidak merusak, tak buat aku dungu. Semua itu adalah perasaan yang amat gawat. Aku dengar semua hal di surga dan di bumi. Aku tau semua tentang neraka. Lalu bagaimana saya bisa marah? Mendengarkan! Dan mengamati dengan jernih, dengan tenang, akan aku ceritakan semua kisahnya.

Sangat tidak mungkin untuk menceritakan pertama kali ide itu muncul, tapi, satu hal, yang menghantui siang malam. Tidak ada objek. Tidak ada cara. Aku cinta lelaki tua itu. Ia tidak pernah menyalahkanku. Ia tidak pernah menganiayaku. Untuk emasnya aku tak ada keinginan. Mungkin matanya! ya, itu dia! Matanya menyerupai burung hering itu. Mata biru yang pucat. Kapanpun terasa masuk ke darahku berlari dingin, dan juga secara bertahap, aku buat pikiranku untuk hidup bersama lelaki tua itu, hal itu melemparkanku pada kehidupan mata hering itu.

Sekarang ini intinya. Kau menghayal aku gila. Lelaki gila tak tau apa-apa. Tapi kau harusnya melihatku. Kau harusnya melihat betapa bijaksananya aku  memulai semua ini —dengan peringatan apa—dengan meninjau masa depan mana, dengan pura-pura yang mana, aku pergi bekerja! Aku tidak pernah mengambil tindakan kepada lelaki tua itu sampai selama seminggu sebelum aku bunuh dia. Dan setiap malam, tengah malam aku buka pintu kamarnya dengan hati-hati! Kemudian, ketika pintu terbuka cukup masuk kepalaku, aku letakan berdekatan dengan lentera yang gelap, dekat sehingga tak ada cahaya keluar, lalu aku masukan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti tertawa melihatku dengan cerdik memasukan kepalaku kedalam! Pelan, sangan pelan, sehingga tak mengganggu lelaki tua itu yang tertidur. Berjam-jam aku lakukan itu, untuk membuat kepalaku seluruhnya masuk sampai aku melihatnya tertidur di ranjang. Ha! Akankah lelaki gila ini mengetahui sat saat seperti ini? Aku baru saja membukanya sehingga sinar tipis mengena pada mata burung hering. Yang ini aku lakukan untuk malam panjang yang ke tujuh, setiap malam setiap tengah malam, tapi mata itu selalu tertutup, hal yang mustahil untuk melakukan sesuatu, untuk itu bukan lelaKi tua yang menyakitiku tapi mata setannya. dan setiap pagi, ketika hari terjatuh, aku pergi ke kamar dan berkata dengan berani kepadanya, memanggil namanya dengan keras, dan menyelidiki bagaimana ia melewati malam. Setiap jam 12 aku lihat dia ketika tidur.

Malam yang ke 8, aku lebih biasakan membuka pintu. Tiap menit bergerak cepat daripada yang dirasakan. Belum pernah sebelumnya malam itu aku merasakan kehadiran dari kekuatanku sendiri, dari kecerdikanku. Aku hampir menang. Berpikir membuka pintu sedikit demi sedikit, dan ia bahkan tidak memimpikan rahasia perbuatanku. Aku tertawa kecil dengan ide ini, dan barang kali ia mendengarku. Sekarang kamu mungkin berpikir aku menggambarkan yang lalu- tapi tidak. Kamarnya gelap. Dan juga saya tahu bahwa ia tidak akan melihat ketika aku membuka pintu dan terus membuka perlahan.

Aku telah masukkan kepalaku, dan membuka lentera, ketika aku memegang tali timah, dan lelaki tua itu terbaring di kasur, teriak, siapa itu?

Aku diam. Diam lama sekali. Saat itu juga aku tak mendengar ia turun dari ranjang. Ia masih berada di ranjang, mendengarkan; yang baru saja aku lakukan tiap malam.

Segera, aku dengar rintihan, dan aku tahu itu adalah rintihan dari sebuah teror. Bukan rintihan rasa sakit atau sedih. Oh, tidak! Suara itu adalah suara tak berdaya yang ku dengar. Aku tahu suara itu. Banyak malam, baru saja, ketika semua tertidur, mengalir didada, sangat dalam, dengan rintihan itu, teror itu menggangguku. Aku tahu betul. Aku tahu yang dirasakan oleh lelaki tua itu, aku kasihan padanya walau hatiku mengeluh. Aku tahu bahwa ia sudah pernah berbohong sejak ketika pertama kali gaduh saat beranjak dari tempat tidur. Ketakutannya sedang tumbuh. Ia mencoba berhayal tanpa sebab, tapi gagal. Ia berkata pada dirinya “ Itu adalah tak lain hanya asap dari cerobong, itu hanya tikus yang berjalan di tembok”.  

Ketika aku telah menunggu lama waktu dengan sabar tanpa tatap muka dia berbaring, aku memecahkan untuk membuka suatu sedikit-- seluruhnya, sangat kecil celah di dalam lentera itu. Maka saya membuka itu-- kamu tidak bisa membayangkan bagaimana pelannya, diam-diam-- sampai sinar suram tunggal seperti benang laba-laba memancar dari celah dan menyerang mata burung manyar itu.

Terbuka, lebar, terbuka lebar-lebar, dan aku bergerak sangat hebat dan menatap di atas nya. Aku lihat ia dengan jelas sempurna-- semua luka yang biru tumpul dengan dengan selubung yang mengerikan di atas itu kedinginan itu seluruh sumsum di dalam tulang ku, tetapi aku bisa lihat tidak ada yang lain untuk orang atau wajah yang tua, karena aku telah mengarahkan sinar itu seolah-olah oleh naluri yang dengan tepat ketika noda yang terkutuk itu.

Dan sekarang aku menceritakan kepada kamu bahwa apa yang kamu salah kira untuk kegilaan ini tidak lain dari over-acuteness pikiran sehat? sekarang, aku katakan, disana datang kepada telinga ku adalah suatu bunyi; serasi cepat yang tumpul, seperti suatu penantian membuat ketika kapas dibungkus. Aku mengetahui bahwa bunyi; serasi yang baik juga. Itu adalah pukulan jantung yang tua. Itu meningkat amukan ku ketika pukulan suatu drum merangsang prajurit itu ke dalam keberanian.

Jika kamu masih berpikir saya gila, kamu tak akan berpikir lama ketika saya menggambarkan tindakan pencegahan di dalam persembunyian. malam semakin larut, dan aku harus cepat, tetap pelan.

Aku ambil 3 papan dari lantai kamar, dan menyimpannya diantara balok-balok. Lalu meletakkan kembali dengan rapi, sehingga tak ada orang yang dapat mengetahuinya. Tak ada sisa noda darah sedikitpun. Aku sangat hati-hati.

Ketika semuanya akan berakhir, jam 4 pagi, masih gelap. Ketika bel jam berdeting, ada seseorang yang datang. Aku turun dengan hati yang cerah., tak ada ketakutan? 3 pria, memperkenalkan diri dengan sopan, polisi. Tetangga mendengar jeritan malam tadi. Kecurigaan telah terjadi. Dan mereka pun ditugaskan untuk kesini.

Aku tersenyum, tak ada rasa takut? Aku tawarkan mereka masuk. Teriakan, aku berkata, itu suara ku ketika bermimpi. Lelaki tua, aku jelaskan, pergi ke daerah. Aku tawarkan mereka menggeledah rumah. Aku ajak mereka ke kamar lelaki tua itu. Aku tunjukkan miliknya, aman, tak ada yang rusak. Lalu aku bawakan mereka kursi untuk duduk istirahat, dan aku, dengan berani aku duduk di tempat papan bernoda tadi.

Caraku telah meyakinkan mereka dan mereka puas. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan aku jawab riang. Tapi, tak lama kemudian mukaku pucat karena ingin segera mereka pergi. Kepalaku sakit, dan berkhayal bunyi dering ditelingaku. Mereka tetap duduk dan berbincang. Bunyi dering itu makin jelas. Aku mencoba berkata lebih bebas. Tapi hal itu terus berulang pasti. Sampai, suara itu aku rasa tak ada di telingaku.

Sekarang aku sangat pucat. Tapi aku berkata lebih fasih, dan dengan suara yang meninggi. Apa yang harus aku lakukan? Aku menghembus, dan sebelum polisi mendengarnya. Aku berkata lebih cepat, lebih bernafsu namun tetap dengan suara bersahabat.      


SULUK MALANG SUNGSANG JILID KE-7 KARYA AGUS SUNYOTO



Novel terakhir jilid ke-7 karya Agus Sunyoto ini merupakan jilid terakhir dan diterbitkan oleh Pustaka Sastra (Kelompok penerbit LKiS) dengan judul Suluk Malang Sungsang “Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar”, sebanyak 658 halaman, 12 x 18 cm.  

Mengisahkan bagaimana perjalanan ruhani Suluk Malang Sungsang atau lebih dikenal Syeikh Siti Jenar ini mencapai perjalanan ruhani ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu Al fard (Yang Maha Sendiri). Juga mengisahkan kesimpang siuran Syeh Siti Jenar dibunuh oleh Dewan Walisongo di Mesjid Demak tidaklah benar. Tokoh yang mengaku ngaku sebagai Syekh Siti Jenarlah yang menyebarkan ajaran sesat itu yang dibunuh.

Dalam bab bab pertengahan dijelaskan perlambang perlambang Nafs Nafs yang ada pada diri manusia. Serta bagaimana Nafs nafs ini satu persatu memperlihatkan wujudnya kepada Syaikh Siti Jenar, seperti ular belang (kuning, hitam, putih, merah) yaitu perlambang nafs Al-Hayawaniyyah anasir tanah bersifat zhulmun, yang berarti permata khayalan yang menyesatkan. Anjing berbulu hitam kemerahan, perlambang nafs Al-Ammarah, perlambang api yang selalu naik tegak lurus yang cenderung kepada perbuatan jahat, pamrih, ingin dipuji, nikmat badan dan ruhani. Anjing berbulu putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yaitu perlambang nafs Al-Lawwamah cenderung dengan rasa bangga , merasa paling benar, merasa paling hebat dan suka mencela orang lain. Dan seterusnya hingga perlambang ke-8, bayangan burung anqa yang tipis yang diliputi cahaya terang kebiruan perlambang nafs Al Kamilah.

Dalam novel ini juga menceritakan bagaimana kenyataan pahit penduduk Kozhikode, yang dikecam kegelisahan akibat tindakan tindakan orang Portugis yang ganas. Kemenangan peperangan Portugis di Kozhikode, berdampak buruk juga ke tanah Jawa. Dimana pengungsi pengungsi berdatangan ke tanah Jawa dan memberikan kebiasaan keyakinan yang menyimpang.

Percakapan orang Kaya Kenayan dengan Syekh Abdul Jalil tentang suatu negeri yang dikuasai oleh negeri lain dalam novel ini, sebagai berikut :

“Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?’ tanya Orang Kaya Kenayan.

“Ketidak mampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada yang Mahakuasa (al-Muqtadir).

“Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?’ tanya Orang Kaya Kenayan.

“Kalau terpaksa, kenapa tidak?” sahut Abdul Jalil datar. “Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dalam keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Maharajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah arti kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Maharajadiraja semesta; Rabb manusia, Maharajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. An-Nas: 1-6). Ya, bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsawanan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.”

Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?”
“Justru dibawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah, “ kata Abdul Jalil.

“ Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.”

“Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Maharajadiraja semesta; Dia, Maharajdiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), yang Maha Mengangkat (ar-Rafi’), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu’iz), Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu  sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.”

“Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan satu-satu Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan dimana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemimpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak dirampas dan dikuasai musuh,” papar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?’ tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik nafas berat dan kemudian menghembuskannya keras-keras.

“Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,” sahut Abdul Jalil dingin,”Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.”

“Maksud Tuan Syekh?”

“Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah penduduk negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran negeri ini sendiri dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?”


“Lantaran itu , o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, srigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah dimana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.”

RIWAYAT MAZHAB WALISONGO



Nagarakretabhumi 1.5 HAL 53 – 54

Oleh : Ayat Rohaedi

Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Bandung 1986

Diriwayatkan, bahwa dalam rangka penerapan hukum islam, para guru agama ada yang menganut mazhab Sapi’i, Hanapi, Hambali dan Maliki.

Sultan Demak dan para pembesar serta kepala wilayah dan banyak anggota kepala bersenjata menganut mazhab Hanapi. Adapun Sunan Jati adalah penganut Sapi’i. Begitu juga para putra, menantu, dan keturunannya serta para pembesar dan kepala wilayah yang ada di bawah pengaruh dan kekuasaan Sunan Jati di wilayah Jawa Barat dan di tempat-tempat lainnya lagi. (NKB 1.3. 51-52).

Adapun penganut mazhab Syiah yang disebarkan oleh Syeh Lemah Abang, kebanyakan murid-muridnya berada di Jawa Timur, antara lain Kiyageng Kebo Kenongo, Bupati Pengging, Pangeran Panggung, Sunan Geseng, Ki Lonthan, Ki Datuk Pardun, Ki Jaka Tingkir ialah Sultan Pajang, Kiyageng Butuh, Ki Mas Manca, Ki Gedheng Lemah Putih, Pangerang Jagasatru, Ki Gedheng Tedeng, Ki Anggaraksa, Ki Buyut Kalijaga, Ki Gedheng Sampiran, Ki Gedheng Trusmi, Ki Gedheng Carbon Girang, Pangeran Ccucimanah, Pangeran Carbon, Kibuyut Weru, Ki Buyut Kamlaka, Ki Buyut Truwag, Ki Buyut Tugmudal, Dipati Cangkwang, Pangeran Panjunan, Syeh Duyuskani ialah Pangeran Kajaksan, Pangeran Kejawanan, Dipati Suranenggala, Pangeran Mungsi, Ki Gedheng Ujunggebang, Ki Gedheng Panguragan, Ki Gedheng Ender, Ki Buyut Bojong, Ki Buyut Kedokan,, dan banyak lagi yang lainnya.

Mengenal penganut Hanapi, secara terperinci, disebutkan, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sultan Demak Raden Patah, Pangeran Sabrang Lor, Syeh Kuro, Syeh Majagung, Raden Sepat (Arsitek masjid Demak dan Cirebon), Sunan Kudus, Arya Penangsang, Syeh Benthong.

Sunan Kalijaga tadinya penganut Hanapi, namun setelah Syeh Lemah Abang meninggal, ia menjadi penganut Syiah. Juga Pangeran Trenggono, Kiyageng Sela atau Ki Jurumartani, dan Sutawijaya akhirnya menganut Mazhab Syiah.

Dengan demikian, ada tiga mazhab yang banyak penganutnya, yaitu mazhab Hanapi, Syafi’i, dan Syiah. Mazhab Syafei di Cirebon dan Jawa Barat lainnya, sedangkan mazhab Syiah banyak penganutnya di pedalaman Demak dan Jawa Timur, juga di pedalaman Cirebon dan Jawa Barat umumnya. Mazhab Maliki dan Hambali tidak banyak penganutnya.

TAK SELAMI LAUTAN

TAK SELAMI LAUTAN

Kapal yang bergerak perlahan
Dengan gelombang yang berirama
Dimalam hari kutermenung sendiri
Dilantai Enambelas kapal ini

Aku sesali sungguh
Mengapa aku tak selami lautan
Tuk bertanya pada paus, atau
Sekelompok ikan tuna yang berloncatan

Karena aku ingin tahu
Rahasia luasnya samudra
walau sudah lama sering kita berjumpa
Aku sesali keterbatasanku ini

Lalu kusadari keterbatasanku ini
Aku bukanlah apa apa ...
Aku tidak tahu apa apa ...

Grand Princess
26 Januari 2017
Pukul 19.13 menuju Puerto Vallarta

THE RAINBOW TROOPS BY ANDREA HIRATA

The Rainbow Troops, chapter 1: Ten New Students



THAT morning , when I was just a boy, I sat on a long bench outside of a school. The branch of an old filicium tree shaded me. My father sat beside me, hugging my shoulders with both of his arms as he nodded and smiled to each parent and child sitting side by side on the bench in front of us.

It was an important day: the first day of elementary school. At the end of those long benches was an open door, and inside was an empty classroom. The door frame was crooked. The entire school, in fact, leaned as if it would collapse at any moment. In the doorway stood two teachers, like hosts welcoming guests to a party. There was an old man with a patient face, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, or Pak Harfan—the school principal—and a young woman wearing a jilbab, or headscarf, Ibu N.A. Muslimah Hafsari, or Bu Mus for short. Like my father, they also were smiling.

Yet Bu Mus’ smile was a forced smile: she was apprehensive. Her face was tense and twitching nervously. She kept counting the number of children sitting on the long benches, so worried that she didn’t even care about the sweat pouring down onto her eyelids. The sweat beading around her nose smudged her powder makeup, streaking her face and making her look like the queen’s servant in Dul Muluk, an ancient play in our village.

“Nine people, just nine people, Pamanda Guru, still short one,” she said anxiously to the principal. Pak Harfan stared at her with an empty look in his eyes.

I too felt anxious. Anxious because of the restless Bu Mus, and because of the sensation of my father’s burden spreading over my entire body. Although he seemed friendly and at ease this morning, his rough arm hanging around my neck gave away his quick heartbeat. I knew he was nervous, and I was aware that it wasn’t easy for a 47-year-old miner with a lot of children and a small salary to send his son to school. It would have been much easier to send me to work as a helper for a Chinese grocery stall owner at the morning market, or to the coast to work as a coolie to help ease the family’s financial burdens. Sending a child to school meant tying oneself to years of costs, and that was no easy matter for our family.

My poor father. I didn’t have the heart to look him in the eye. It would probably be better if I just went home, forgot about school, followed in the footsteps of some of my older brothers and cousins, and became a coolie …

My father wasn’t the only one trembling. The face of each parent showed that they weren’t really sitting on those long benches. Their thoughts, like my father’s, were drifting off to the morning market as they imagined their sons better off as workers. These parents weren’t convinced that their children’s education, which they could only afford up to junior high, would brighten their families’ futures. This morning they were forced to be at this school, either to avoid reproach from government officials for not sending their children to school, or to submit to modern demands to free their children from illiteracy.