GEROMBOLAN KERA

Aku melihat dahan-dahan pohon beserta ranting-ranting yang berdaun dalam sebuah petak kolam persegi tanpa air. Aku bergelantung-lantung masuk ke dalam, lalu aku melihat sekelebat kera kearah sebrang dan menghilang. 

Ternyata aku tak sendiri. Banyak manusia-manusia lain yang tidak dikenal dalam sebuah ladang yang tak bertanam. Kami semua telanjang walau seperti memakai sesuatu diantara perut dan lutut. Aku melihat mereka berlarian di petak ladang tak bertanam itu. Ada yang langsung tiarap dan melumuri tubuhnya dengan lumpur, ada pula yang masih berlalu lalang tak karuan. 

Kami semua tahu 

Kami tahu makanya bergegas 

Bahwa kera yang tadi pergi akan kembali beserta kawanan-kawanannya dan kami merasa takut.

Kami merasa perlu untuk bersembunyi. Kami semua sepertinya panik dan mencoba untuk saling menutupi tubuh kami dengan tanah. Kami tiarap terlebih dahulu lalu tangan-tangan kami sibuk menutupi tubuh kami dengan dalih supaya nanti kawanan-kawanan kera itu tidak bisa melihat. 

Aku

Dan aku sendiri sepertinya yang terakhir mendapatkan tempat kenyamanan. Lalu aku pun segera menutup tubuhku dengan tanah. Tak semua memang. Yang penting merasa nyaman.

Dan Dia di atas

Menatapi kami dari awal
Apakah Dia Tuhan ?



Bogor, 3 April 2019 01:00 WIB
Ade Nugraha 


* Beberapa hari kemudian, ada masalah yang sangat berat, dimana lawan-lawan bicara membawa-bawa agama padahal mereka sendiri yang tidak menunjukkan prilaku sesuai agama. Dengan berpegang teguh pada kejujuran dan tetap dibawah koridor agama, lambat lahun Allah SWT menunjukkan satu-persatu siapa sebenarnya yang salah.