BERMIMPI KE KAMPUNG KANIBAL

Selasa Tanggal 21 April 2020 Pukul 05.00 WIB


DAN SEBUAH KOPI DARI MASA DEPAN

Berangkat dari rumahku yang berpagar hitam dengan sepeda motor Vesva baru berwarna hijau muda. Kuikuti dari belakang Rian yang sudah duluan tancap gas bersama satu teman kami lainnya. Aku lihat speedo meterku naik seiring aku menancapkan gas Vesva ini. 

Perjalanan kami sedikit menanjak dengan kondisi jalan yang mulus dan sedikit berkelak kelok. Kulihat rumah rumah penduduk di pinggir jalan, dan jembatan kuning yang kami lewati. 

Hingga sudah tiba disuatu ketinggian yang sepertinya daratan yang paling tinggi di daerah itu. Aku masih mengikuti laju motor Rian dan teman kami itu. Berbelok ke kanan dengan belokan sudut 45 derajat, alangkah kagetnya aku dihadapkan oleh sekelompok orang-orang yang bertubuh besar setinggi dua meteran, diantara mereka ada yang pendek namun tetap besar. Wajah wajah mereka aneh, seperti wajah-wajah monster di film film. Dan aku berpikir saat ini ini adalah sekelompok kanibal dan mungkin mereka akan menangkapku.

Sepertinya mereka sedang berpesta pora dijalan yang kami lewati itu. Mereka menempatkan kuali-kuali yang besar-besar itu di tengah jalan dengan kayu bakar yang berapi dibawahnya.  Aku lihat ada 3 kuali besar disana. 

Sebagian dari mereka ada yang sedang mengaduk-ngaduk makanan berkuah itu. Sepertinya jeroan daging yang besar, jeroan usus itu besar sekali, bukan jeroan sapi  atau kambing, atau mana mungkin jeroan ayam sebesar itu. Aku juga melihat diantara mereka menyantap jeroan-jeroan itu dengan nikmat. 

Sambil kulalui mereka, kulalui jalan itu yang hanya tersisa pas sekali bisa dilewati oleh sebuah motor. Salah satu dari mereka mendekati motorku dan hendak menyetopku. Dia berkata, berhenti kalian, beruntung bisa melewati jalan kampung kami, dulu jalan ini ditutup, saya ingin kalian membayar beberapa rupiah kepada kami. 

Sambil ketakutan dan melewati diantara desakan-desakan tubuh mereka yang besar aku menjawab akan membayar yang kalian minta sepulang kami dari tempat tujuan kami. Lalu kami bertiga pun akhirnya bisa melewati dari gerumulan mereka. 

Setelah melewati sekumpulan raksasa yang sedang berpesta pora itu, kami berhenti di pinggir jalan yang indah dengan pesawahan yang luas dan hutan-hutan kecil disana.  Aku menyarankan kepada Rian dan teman kami itu, agar nanti tidak melewati jalan yang tadi. Kita akan melewati jalan lain memutar. 

Rian dan temanku itu meneruskan perjalanan melewati sawah-sawah dan sebuah lahan kosong yang berair satu jengkal. Aku melihat sepatuku basah. Aku ingat sekali sepatu itu, converse putih. Air yang menggenang semata kaki itu sangat jernih sekali hingga kita tiba disebuah rumah. Entah rumah itu sepertinya ada penghuninya, seperti rumah posko atau basecamp pecinta alam. 

Aku melihat dibelakang rumah itu ada sebuah etalase sedang yang kosong lalu aku kembali ke ruang utamanya. Di ruang utama itu ada beberapa etalase yang berisi sepertinya dagangan atau display. Lalu tiba-tiba datanglah seorang pria yang bernama Sahrul penjaga rumah itu, seiring aku mencari kopi lalu dia menyuguhkan segelas kopi. 

"Minumlah kopi ini, kopi dari masa depan." 

Lalu aku pun terbangun 


Selasa Tanggal 21 April 2020 Pukul 05.00 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar