BERMIMPI DENGAN ABAH AOS SIRNARASA

Selamat sore sahabat semua kali ini saya akan menceritakan pengalaman mimpi saya bertemu dengan ulama besar yang berada di Sirna rasa Panjalu yang bernama Syekh  Abdul Gaos Saefullah Maslul atau Abah Aos. 

Pada dasarnya saya tidak begitu mengenal beliau. Saya hanya tau beliau dari tik tok dan youtube. Suatu malam dalam mimpi saya, saya melihat beliau dari jauh. Sekitar 50 meteran dari pandangan saya, memakai pakaian yang biasa dia kenakan lengkap dengan jubah. Pada saat itu seingat saya beliau mengenakan pakaian serba warna coklat. 

Dalam mimpi itu saya melihat beliau sedang sibuk masuk rumah penduduk. Beliau masuk tiap pintu rumah penduduk. Di mimpi itu beliau tidak mengetahui keberadaan saya, saya hanya melihatnya dari jauh. 

Setelah saya memimpikan beliau, rasa penasaran saya pun semakin tinggi kepada beliau. Tadinya hanya selingan saja kadang ceramah beliau lewat page tiktok saya. Namun sekarang satu persatu saya cermati isi ceramah beliau. 

Pada suatu malam setelah saya menonton ceramah beliau, menjelang tidur, sebelum tidur saya berdoa Ya Allah saya ingin bertemu dengan Abah Aos di dalam mimpi lagi. Saya penasaran dengan mimpi saya yang katanya kalau kita bermimpi dengan seorang ulama, bahwa itu benar mereka. Makanya saya dalam hati berkata Ya Allah klo memang benar di dalam mimpi saya yang lalu benar bahwa ulama itu hadir di dalam mimpi kita. 

Alangkah terkejutnya setelah saya terbangun dari tidur dipagi harinya saya bermimpi dengan beliau bahkan beliau beserta istri dan rombongannya datang ke rumah saya. 

Dalam mimpi itu saya sedang di sebuah kamar di rumah. Tapi keadaan rumah saya itu tidak seperti nyatany, berbeda dengan keadaan rumah saya aslinya. Beliau datang di depan rumah dan saya pun langsung salaman dengan beliau dan istri dan rombongannya satu persatu saya salaman. 


Lalu saya menghantarkan mereka ke kamar itu. Kamarnya sempit sekitar tiga kali tiga meter saja tapi semuanya cukup dan muat. Abah Aos dari pertama datang berseri seri dan istrinya pun juga. Saya lupa beliau mengenakan pakaian warna apa, kalau gak salah hijau, namun seperti biasanya beliau mengenakan pakaian. Istrinya beliau mengenakan pakaian serba hitam. Jelas sekali wajah beliau dan selalu berseri seri. 

lalu ceritanya saya mau ambil air ke dapur dan seketika saya membuka kamar yang satunya lagi, di dalam kamar saya temui saudara saudara saya yaitu Irfan (kaka pertama), Imat (kaka kedua, almarhum) dan Anton (kaka ketiga). Saya berkata kepada mereka mengapa kalian mengurung diri, mengapa kalian hanya di dalam kamar sedangkan ada tamu di rumah kita. Lalu saya menyuruh mereka untuk bersalaman dengan tamu rumah. 

Dan saya pun terbangun

Terima kasih (Mimpi 1 April 2022) 

SUSU YANG TIDAK PERNAH JADI


Selasa 09 Juni 2020 Pukul 05.00 WIB

Selamat pagi sobat mimpi tadi malam, mimpi kali ini saya akan menceritakan perjalanan ke kampus dari rumah. Kala itu kami sedang menghadapi ujian.

Berawal dari rumah, temanku Bojong datang ke rumah dengan pakaian biasa casual. Dia datang ke kamarku yang sedang sibuk mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam, layaknya jaman waktu kuliah kalau mau ujian itu mengenakan hitam putih. Karena buru buru dasi hitam belum dikenakan dan masih berada di genggaman. Aku bawa tas hitamku dan buru buru pamit kepada ayah dan ibuku.

Kami berdua pun pamitan bersalaman dan ayahku berkata agar berhati hati di jalan. Pagar rumah warna hitam itu mirip sekali dengan mimpiku di bulan yang lalu. Masih dengan situasi yang tergesa Bojong jalan duluan di depanku. Aku pun mengikutinya sambil menggerutukan sesuatu entah apa itu yang tidak aku sukai. Diperjalanan aku merasakan Bojong tidak menyukaiku karena keluh kesah ku itu.

Tiba disebuah pelabuhan. Aku memandang luas lautan hingga terlihat garis horizontal tepi laut yang jauh disana. Dipelabuhan itu terlihat banyak sekali peti kemas peti kemas yang tertata rapih berwarna merah.

Perjalanan kami lanjutkan. Dan aku masih menggerutu sambil jalan dengan keluh kesah. Kami tiba disebuah perempatan yang ditengahnya terdapat sebuah tugu dan jalanan jalanan kecil ke setiap arahnya, yang tiap sisinya dibatasi dengan besi besi tralis. Jalan jalan kecil itu ramai sekali. Orang berlalu lalang seiring kami berdua pun melewatinya. Setelah belok ke kanan dari pelabuhan itu, di tugu itu kami sekarang belok ke kiri sambil berdesak desakan di tengah keramaian.

Setelah melalui tugu perjalanan masih sangat ramai namun tidak sempit lagi, hingga tiba di suatu tanah yang lebih rendah. Saya pun menuruni tanah itu, sekitar satu meter saja. Setelah berada di dataran tanah yang lebih rendah itu, aq melihat kembali ke arah atas tanah yang kulalui dan melihat Tomo dan istrinya berada disana setelah menaiki tanah itu. Aku melihat istrinya Tomo sedang hamil dan dia (Tomo) dengan penuh bangga mengusap usap perut istrinya yang sedang hamil itu.

Perjalanan kami teruskan ke sebuah ruangan seperti kandang sapi yang bersih dan modern. Disana kami bertemu dengan seseorang. Seseorang itu mengantarkan kami kesebuah ruangan lagi. Di ruangan itu terdapat sapi (Tapi sebenernya keledai) sebesar kambing dengan sebuah alat dipunggungnya (Seperti besi yang rata). Dan tiba tiba saja orang yang mengantarkan kami itu berkata "Susu yang tidak pernah jadi??" . Kami berdua pun memandang sapi itu ke bawah sambil berpikir inikah ujian itu? (Bagaimana agar susu bisa jadi?)

Lalu aku pun terbangun

MENANGIS DI ACARA BANSOS


Kamis Pukul 04.30 WIB Hari Kamis 04 Juni 2020

Di sebuah daerah telah terjadi bencana (tidak diperlihatkan bencana apa). Aku pun lekas pergi ke daerah itu. Aku melihat kebun pohon karet. Di tengah kebun itu terdapat sebuah restoran nyaman suasana rumah bambu yang  memiliki lapangan rumput di depannya. Lapangan rumput itu dialiri sebuah sungai yang jernih dan bebatuan kecil di sampingnya.

Setiba di kebun pohon karet itu, aku memandang satu jalan lorong setapak menuju ke jalan raya. Jalan lorong setapak itu telah rampung dikerjakan oleh dua orang yang tidak ku kenal. Jalan itu dibuat agar memudahkan akses ke dalam, karena tanah diantara jalan raya dan restoran itu sedikit memuncak. Jadi sekarang akses menuju restoran itu sudah mudah dilalui oleh siapa saja. 

Sambil memandang lurus lorong itu aku melihat salah satu orang yang membuat lorong itu. Beliau pincang dengan mengenakan pakaian yang lusuh. Aku pun berlari keluar jalan raya melalui lorong itu ingin melihat satu orang lagi yang membuat lorong tersebut. Beliau seperti tukang kopi keliling. Aku melihat beliau beranjak pergi dengan sepeda nya.

Setelah melihat kedua orang tersebut aku kembali masuk ke dalam melalui lorong itu dan menuju restoran bambu. Disana aku bertemu dengan beberapa orang yang sedang mempersiapkan masakan. Aku melihat salah satu diantara mereka yang memasak sangat gemuk sekali.

Setelah itu aku tiba tiba berada diantara barisan manusia manusia yang semuanya mengenakan pakaian putih di depan lapangan restoran itu. Aku berdiri lalu berjongkok di atas batu diantara aliran air yang sangat dangkal. dibayangan air itu di depan ku, aku melihat Opik Gimbal disana. Dia menghadapku lalu melemparkan air sungai dibebatuan itu ke empat arahnya. Arah yang terakhir ditujukan kepadaku. Dia melemparkan air jernih itu kepadaku seperti main kelereng. 

Ketika air itu datang tiba tiba aku pun menangis tersungkur di atas bebatuan kecil. Aku menangis tersedu sedu dengan tangan kanan melingkar dikeningku. Aku mengeluh betapa berat kehidupan ku. Lalu aku melihat Adi Romus dihadapanku dan dia berkata "Maneh sono nyah ka si Opik?"


Dan aku pun terbangun Pukul 04.30 WIB Hari Kamis 04 Juni 2020

Setelah bangun aku pun solat subuh. Lalu berbaring kembali sambil melihat lihat medsos di hp. Ketika melihat grup WA Sebaru Diamond Princess ada kabar yang sangat menggembirakan yang kami nanti nantikan. Dikabarkan sejumlah nominal bantuan dari perusahaan Cruise Line kami, mendarat di masing masing rekening kami. Saya sangat bersyukur alhamdullah dapat bantuan dana yang sangat besar ini. Alhamdulillah 

HULU SUNGAI YANG KERUH DAN DEWA GANESHA

Jumat Tanggal 08 Mei 2020, Pukul 03.30



Kami bertiga salah satunya adalah istriku. Kami berada di hulu sungai yang membentuk sebuah lubuk yang luas. Lubuk sungai itu seperti sebuah danau hijau dan terdapat sebuah pabrik di atasnya. Lubuk sungai itu keruh yang dikarenakan oleh limbah dari pabrik tersebut. Sebuah bangunan yang kokoh diantara pepohonan yang lebat disekitar sungai. Lalu kami menyusuri sungai itu dari hulu ke hilir. Sungai itu terpisah menjadi dua aliran yang dipisah oleh tembok yang keras dan kami berjalan diatas tembok berbatu itu. Aku melihat air itu keruh sekali dengan sampah sampah plastik di pinggiran sungai. Air sungai itu mengalir tidak begitu deras. Begitu melimpahnya air itu padahal baru dari hulunya. Aku berkata kepada teman ku itu bahwa bagaimana mungkin sebuah hulu sungai tapi sudah keruh dan banyak sampah plastik ini. Apalagi kalau di hilirnya, mungkin akan lebih keruh dan banyak sekali sampah.

Setelah menyusuri sungai itu kami bertiga keluar dari sungai itu dan memasuki sebuah pasar namun kami bertiga terpisah. Aku ke sebelah kanan pasar sedang kan istriku ke sebelah kiri pasar. Dan teman ku itu si Udin entah kemana aku tidak tahu. Kisah berlanjut aku pun mencari istriku ke arah kiri pasar. Kulihat kakak ku Anton sedang makan disebuah warteg yang aku lalui. Terus aku belok kanan ke arah istriku berjalan, hungga kulalui ujung pasar disana ada sebuah penjual sayur lontong padang. Gerobak tukang sayur lontong padang itu sangat bagus sekali dengan atap seperti rumah padang dan terdapat rumbai rumbai yang indah. Dan ternyata istriku sedang makan di lontong sayur padang tersebut. Sambil menunggu istriku menghabiskan makanannya, aku melihat lihat sekitar belakang ujung pasar itu. Jalan lurus ini bertemu dengan simpang jalan kearah kiri dan kanan, 45 derajat. diantara persimpangan itu tepat sekali di akhir jalan ini, ada sebuah kuil yang posisi terasnya lebih tinggi 2 meter dan bertangga.

Di teras yang tinggi itu berdiri seorang manusia yang berkepala gajah, belalainya sangat jelas sekali terlihat dengan kalung bunga kuning dan sarung polos kuning. Disampingnya ada seorang ibu ibu yang sedang mempersiapkan sesuatu untuk menyambut tamu tamu yang sebentar lagi akan berdatangan. Terlihat asap dupa yang mengepul di depan pasangan sejoli itu. Seiring aku melihat kegiatan pasangan sejoli itu, yang menurut ku sebuah pemandangan yang menarik, istriku sudah selesai memakan lontong sayur padang tersebut, lalu aku pun berkata " Istriku akan kutunjukkan sesuatu yang sangat indah, dan kita akan kesana menengoknya". Istriku pun sumringah penuh semangat sedangkan istriku tidak menyadari bahwa pemandangan yang menarik itu sangat dekat berada hanya beberapa meter saja ditemoat kami berdiri. Lalu karena perutku juga keroncongan, aku pun berkata kepada istriku " Sebelum kita kesana, aku mau makan sayur lontong padang dulu" .

Lalu aku pun terbangun dari tidur karena waktunya sahur telah tiba

BERMIMPI KE KAMPUNG KANIBAL

Selasa Tanggal 21 April 2020 Pukul 05.00 WIB


DAN SEBUAH KOPI DARI MASA DEPAN

Berangkat dari rumahku yang berpagar hitam dengan sepeda motor Vesva baru berwarna hijau muda. Kuikuti dari belakang Rian yang sudah duluan tancap gas bersama satu teman kami lainnya. Aku lihat speedo meterku naik seiring aku menancapkan gas Vesva ini. 

Perjalanan kami sedikit menanjak dengan kondisi jalan yang mulus dan sedikit berkelak kelok. Kulihat rumah rumah penduduk di pinggir jalan, dan jembatan kuning yang kami lewati. 

Hingga sudah tiba disuatu ketinggian yang sepertinya daratan yang paling tinggi di daerah itu. Aku masih mengikuti laju motor Rian dan teman kami itu. Berbelok ke kanan dengan belokan sudut 45 derajat, alangkah kagetnya aku dihadapkan oleh sekelompok orang-orang yang bertubuh besar setinggi dua meteran, diantara mereka ada yang pendek namun tetap besar. Wajah wajah mereka aneh, seperti wajah-wajah monster di film film. Dan aku berpikir saat ini ini adalah sekelompok kanibal dan mungkin mereka akan menangkapku.

Sepertinya mereka sedang berpesta pora dijalan yang kami lewati itu. Mereka menempatkan kuali-kuali yang besar-besar itu di tengah jalan dengan kayu bakar yang berapi dibawahnya.  Aku lihat ada 3 kuali besar disana. 

Sebagian dari mereka ada yang sedang mengaduk-ngaduk makanan berkuah itu. Sepertinya jeroan daging yang besar, jeroan usus itu besar sekali, bukan jeroan sapi  atau kambing, atau mana mungkin jeroan ayam sebesar itu. Aku juga melihat diantara mereka menyantap jeroan-jeroan itu dengan nikmat. 

Sambil kulalui mereka, kulalui jalan itu yang hanya tersisa pas sekali bisa dilewati oleh sebuah motor. Salah satu dari mereka mendekati motorku dan hendak menyetopku. Dia berkata, berhenti kalian, beruntung bisa melewati jalan kampung kami, dulu jalan ini ditutup, saya ingin kalian membayar beberapa rupiah kepada kami. 

Sambil ketakutan dan melewati diantara desakan-desakan tubuh mereka yang besar aku menjawab akan membayar yang kalian minta sepulang kami dari tempat tujuan kami. Lalu kami bertiga pun akhirnya bisa melewati dari gerumulan mereka. 

Setelah melewati sekumpulan raksasa yang sedang berpesta pora itu, kami berhenti di pinggir jalan yang indah dengan pesawahan yang luas dan hutan-hutan kecil disana.  Aku menyarankan kepada Rian dan teman kami itu, agar nanti tidak melewati jalan yang tadi. Kita akan melewati jalan lain memutar. 

Rian dan temanku itu meneruskan perjalanan melewati sawah-sawah dan sebuah lahan kosong yang berair satu jengkal. Aku melihat sepatuku basah. Aku ingat sekali sepatu itu, converse putih. Air yang menggenang semata kaki itu sangat jernih sekali hingga kita tiba disebuah rumah. Entah rumah itu sepertinya ada penghuninya, seperti rumah posko atau basecamp pecinta alam. 

Aku melihat dibelakang rumah itu ada sebuah etalase sedang yang kosong lalu aku kembali ke ruang utamanya. Di ruang utama itu ada beberapa etalase yang berisi sepertinya dagangan atau display. Lalu tiba-tiba datanglah seorang pria yang bernama Sahrul penjaga rumah itu, seiring aku mencari kopi lalu dia menyuguhkan segelas kopi. 

"Minumlah kopi ini, kopi dari masa depan." 

Lalu aku pun terbangun 


Selasa Tanggal 21 April 2020 Pukul 05.00 WIB

KAKEK ITU BERTERIAK HOROR MENGEJAR KU


Pukul 01:25 WIB Hari Minggu, 12 April 2020


Aku melihat dua ruangan yaitu ruangan tengah dan kamar. Dua duanya kosong, hanya cahaya lampu putih yang sudah redup. Suatu ruangan yang banyak rasa yang tidak bisa aku rasakan sepenuhnya. Mungkin secara keseluruhan adalah rasa seram. 

Lalu aku pergi ke rumah baru kita. Disana ada 3 pintu baru penuh dengan lampu terang yang baru. Ini rumah baru kita. Tiga pintu, satu pintu kita bersebelahan dengan rumah Evi Metro (temen istriku). Dipintu depan rumah tetangga itu adalah rumah atasan kami yang entah aku tidak melihat dia berada disana. Diantara rumah kita dengan atasan itu ada sebuah jalan sempit satu motoran.

Lalu dikarenakan kebelet kencing. Entah kenapa aku mencari tempat sepi pinggir jalan terus berjalan menyusuri jalan kearah kanan, entah kenapa jug a semakin jauh jalan, jalannya itu tidak sempit, tp jalan normal beraspal 3 meteran lebarnya. Aku mencari pancuran yang berada di pinggir jalan buat cuci setelah kencing. Disebelah kanan ku itu adalah sebuah dataran rendah jalan, sedangkan disebelah kiriku itu adalah sedikit daratan tinggi dengan penuh pohon yang ranting rantingnya memenuhi jalan. Lalu sambil jalan disebelah kanan saya seperti ada entah kandang apa itu dipinggir jalan, kambing kali ya. terus disebelah kandang itu ada pancuran kaya paralon gitu. 

Ketika aku mendekati pancuran itu belum juga buka celana ada seorang lelaki tua yang tidak jelas karena gelap teriakin aku : Awas kamu hati-hati kalau jalan lihat tuh disitu (sambil nunjuk) ada ular awas nanti kamu injek, cepetan pergi kamu jangan disini. Aku pun pergi dengan jalan cepet tanpa menoleh lagi ke si kakek tua itu. Tapi entah kenapa dalam perjalanan cepat ku itu si kakek tua itu malah mengejarku. Terdengar jelas suaranya seperti di film-film horor melengking ditelinga ku. Menakutkan dengan suara horor yang semakin dekat terdengar. Tapi aku tidak merasa takut, hanya aneh saja ko si kakek itu ngejar si. Aku pun penasaran sambil jalan cepet itu aku mencoba melihat ke belakang sambil baca bismillah. 

"Bismillahirrohmaan nirrohiiim"

Aku pun terbangun dari tidur yang bermimpi itu.

Lalu aku baca solawat dan istigfar sambil bangunin istriku minta ditemanin ke kamar mandi.

Sekian terima kasih 

Pukul 01:25 WIB Hari Minggu, 12 April 2020
Beberapa hari lagi mau puasa romadhon, dua hari setelah malam Nishfu Shaban. Malem kemaren ada suara dentuman misterius. Besoknya tukang mau kerumah.

Keesokan harinya dikarenakan akan diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Bogor dan sekitarnya, karena kami akan membangun rumah dan sudah janjian sama tukang, akan tetapi si tukang membatalkan karena orang2nya yang dikampung tidak bisa pergi kesini. Dan akhirnya mau tidak mau kami harus memulai nanti setelah lebaran.

METAMORFOSA LIDAH

Jumat Tanggal 6 Maret 2020 03:03 Pagi



Dalam ruang udara
Buih buih kecil yang digerakkan oleh mu
Bisa sebagai virus corona
Atau bunga alamanda

Lalu kulihat seorang ibu dan anak
Lidah mereka menyatu membentuk alamanda
Dan kucoba melerainya dengan tangan
Sebab mereka berdua terpapar virus corona


Sebab bagimu keduanya datang 
Seperti malam yang disapu siang
Atau pun siang yang diselimuti malam
Kebingungan dalam mengartikan metamorfosamu

Siangkah atau malam?


Ade Nugraha, Pulau Sebaru Kepulauan Seribu
Jumat Tanggal 6 Maret 2020 03:03 Pagi


SPIDERMAN FAR FROM HOME 2019

DILEMA SEORANG REMAJA SPIDERMAN FAR FROM HOME ?



Bagi anda yang masih remaja, selamat, film dari Marvel ini diprioritaskan untuk sobat sobat yang masih remaja. Walaupun tertera untuk semua umur, namun tetap menurut saya film ini cocok sekali untuk umur remaja. Kenapa tidak, emosional yang ditampilkan oleh tokoh utama dalam menghadapi keadaan yang sedang dia alami adalah masa kedilemaan seorang remaja. Mirip-mirip film anak-anak Home Alone yang ditinggalkan oleh keluarganya terutama orang tuanya, film ini juga yaaa seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Remaja disini klo menurut sumber wikipedia: 

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa yang berjalan antara umur 11 tahun sampai 21 tahun.

Setelah menonton film terbaru dari Marvel ini hingga hit saat ini, bahkan saya menonton di Pondok Indah Mall Spiderman Far From Home ini dibuka sebanyak kalau tidak salah 3 atau 4 pintu teater secara bersamaan. wuih, booming banget ya sob. Dan rame banget, tiap pintu ramai dikunjungi semua tipe umur. Dari anak-anak hingga orang tua. 

Baiklah sob, saya akan menceritakan sedikit awal mula kedilemaan tokoh utama Peter Parker ini. Berawal dari seseorang, disini adalah Nick Fury, yang ingin berbicara lewat telepon selular melalui perantara asisten Tony. Peter Parker sebagai peran utama dalam film ini yang berstatus sosial sebagai remaja tidak menginginkan agar dirinya dilibatkan dalam aksi pahlawan sebelumnya. Ini sangat bertentangan sekali karena justru dia menginginkan untuk liburan bersama teman temannya terutama dengan MJ dan berwncana untuk menyatakan cinta di Menara Eifel Paris.

Keterlibatan Peran utama dalam mewarisi Avenger seolah hal yang mutlak untuknya dan beberapa kejadian yang secara kebetulan saling terkait membuat dirinya feustasi. Kemunculan tokoh Misterio dan kekaguman peran utama terhadap tokoh misterio ini membuat Spiderman salah langkah. Dia memberikan warisan kacamata yang bisa mengendalikan kekuatan Tony sebagai pemimpin Avenger. Disinilah puncak kedilemaan itu berlangsung sehingga membuat tokoh utama harus sesegera mungkin mengambil keputusan yang cepat. Disinilah kedilemaan tokoh utama itu diuji, akan tetap menjadi anak anak yang tanpa beban dan salah, atau berubah menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab. Bagaimana kelanjutan kisah tokoh utama dalam kedilemaannya itu, tonton segera sob filmnya.




PASANGAN TAK DIKENAL

Aku tidak tahu siapa dirinya, namun seolah kami saling kenal sejak lama. Dia mengajakku ke suatu tempat. Tempat rahasianya. Sebelum ku ikutinya lebih jauh, dia hanya bilang " tak usah ada bonus ya?" lalu aku pun bilang "kemarin, teman mu juga kasih bonus" , sambil kuperagakan sesuatu padanya. Lalu dia pun hanya tersenyum, dengan tangan membuka sebuah gembok besi.

Kuikuti dia yang diawali sebuah ruangan dengan tangga disudut pojoknya. Di ruangan itu ada seorang wanita yang sedang menonton tv. Wanita tua tak berdaya. Tangga yang pertama sungguh sangat berbeda dengan tangga yang lain. Tangga ini tinggi, mungkin dua meter. 

Aku pun menunjukkan kebolehanku dengan menaruh satu buah seperti sofa dan kuyakini sofa itu bisa membantuku dengan hal ini. Aku loncat mnginjak sofa itu dan meloncat ke tangga pijakan pertama. Kuikuti dia. Dia kembali bilang bahwa suaminya tidak ada. Suaminya kerja.

Setelah menaiki tangga yang berbelok itu, aku masuk disebuah ruangan yang bertangga kembali. Tangga yang menjulang ke atas 180 derajat. Kali ini bukan tangga biasa. Seperti berada disebuah menara atau pagoda. Ruangan itu pun terdapat 7 ruangan sempit yang memanjang ke atas. 7 tingkatan. Aku mengikuti di bawahnya.

Ditengah perjalanan, sambil kupijaki satu persatu anak tangga, kulihat seorang pria yang sepertinya adalah suaminya, namun aku tak menghiraukannya. Hingga tiba di ruangan ke-7, ruangan yang lebih luas. Dia meloncat ke sebuah beton kotak yang diantaranya adalah jurang. Lumayan renggang, mungkin sejauh tiga meter . Aku pun meloncat dengan sedikit ragu, walaupun akhirnya aku bisa juga. 

Alangkah kagetnya saat aku meloncat ke arahnya, dia meloncat ke arah ku. Sehingga ketika aku tiba di kotak beton itu, dia berada di sebrang. Sepertinya aku dijebak. Juga aku lihat suaminya yang dibawah tadi dengan dua buah pisau mulai berjalan ke arah ku dengan wajah garang.

Aku pun lari dan sekali lagi aku menunjukkan kebolehanku. Disaat dia mendekatiku, aku berubah menjadi anjing yang bisa menghilang sehingga dia tidak bisa menangkap ku. 

Senin, 01 Juli 2019
Pukul 01:30 WIB

SI DOEL ANAK SEKOLAHAN THE MOVIE 2

DILEMA TOKOH UTAMA DALAM FILM 
"SI DOEL ANAK SEKOLAHAN THE MOVIE 2"


Akhirnya saya menonton Si Doel Anak Sekolahan The Movie 2, setelah sekian lama mengalami kerinduan yang mendalam cieee .. 

Ya begitulah guys bagi anda yang rindu akan sinetron Si Doel kini kembali terobati yang kedua kalinya dengan adanya Si Doel Anak Sekolahan The Movie 2. Bagi saya film terbaru Si Doel ini pas sekali dengan karakter-karakter lama. Dialog dan Lattar yang ditampilkan tidak jauh seperti halnya Si Doel Anak Sekolahan di sinetronnya. Sepertinya sang sutradara menjaga sekali dan meminimalisir sekali segala bentuk perubahan yang bisa mengurangi nilai kepamoran film ini. Yang intinya seperti yang saya katakan dari awal, rindu itu pun terobati.


Pada awal cerita kita disuguhkan oleh penampilan-penampilan aktor dan artis yang sudah familiar bagi kita, seperti Mandra, Doel, Atun, Zaenab dan Mpok Aminah. Karakter mereka sesuai dengan porsinya masing-masing sehingga film ini masih nampak relevan sebagai film maestronya Rano Karno. Karakter Mandra yang lucu dan membuat pecah suasana ini sama persis seperti karakter -karakter sebelumnya. Seperti halnya ketika Doel dan Mandra pulang dari Belanda, Mandra berkata dengan sombongnya bahwa di Indonesia ini sangat panas sekali. 


Hal menarik adalah munculnya karakter Si Doel Junior, anak kandungnya Si Doel dan Sarah. Dilema Si Doel untuk menghadapi anaknya yang sudah lama tidak berjumpa sejak kecil membuat Si Doel tak tahu harus bersikap seperti apa karena posisinya sekarang sebagai suami Zaenab. Hal ini bisa di lihat dari percakapannya Si Doel Junior dan Si Doel di telepon.

Dering telpon dari Si Doel Junior


Doel              : Hallo

Doel Junior : Hallo, Papa sudah sampai Jakarta?
Doel              : Ada apa Nak? ada apa? Bertanya keheranan
Doel Junior : Ngga ada apa-apa. Kangen Papa aja. Oh iya Pah minggu depan itu aku libur. rencananya mau pergi ke Jakarta, sekalian mau nyari sekolah untuk aku nanti tinggal disana!
Doel             : Ya bagus kalau begitu. Sama siapa? dengan wajah kaget
Doel Junior : Sepertinya aku sendiri aja deh. Papah bisa kan jemput aku nanti di bandara?
Doel             : Hah .. Tambah kaget
Doel Junior : Bisa Papah jemput aku nanti? Bertanya polos
Doel             : Ya ya Papah tunggu kamu nanti di bandara. Tanpa berpikir panjang
Doel Junior : Apa aku bisa tinggal di rumah
Doel             : Hah ... Makin kaget
Doel Junior : Bisakan aku tinggal di rumah Papah? Bertanya kembali
Doel             : Iya iya nak kamu tinggal di rumah papah aja. Jawab dengan ragu
Doel Junior : Nanti kalau aku dan berangkat ke Jakarta, aku kabarin Papah lagi.
Doel             : Iya Nak


Menurut saya, inilah awal mula kedilemaan yang dihadapi oleh peran utama Doel, seolah-olah dihadapkan oleh keadaan yang tidak bisa ia hindari lagi, sehingga mau tidak mau ia harus menyelesaikan hal tersebut. Dengan karakter Si Doel yang baik, masalah yang sedang ia hadapi ini mengakibatkannya serba-salah. Disinilah keunikan film ini sehingga peran-peran pembantu sangat dibutuhkan dan berperan aktif muncul di setiap adegan sehingga tidak terlihat kaku. 


Peran pembantu yang aktif yang muncul disetiap adegan ini, seperti yang saya bilang di atas bahwa masing-masing tokoh memiliki peran sesuai porsinya. Seperti halnya antara Mandra dan Atun, apalagi antara Zaenab dan Sarah. Mereka para peran pembantu seolah-olah seperti bertentangan secara tidak langsung. Mandra dengan karakter sembrono dan cuek bersanding dengan karakter Atun yang perasa dan peduli terhadap abangnya. 


Menurut saya peran utama Si Doel ini merupakan peran yang sangat beruntung. Beruntung dari buah kesabarannya. Hal ini bisa dibuktikan dengan masalah yang sedang dihadapinya ini, peran pembantu sepertinya berandil besar dalam memecahkan masalah peran utama. Seperti contoh puncak konflik ketika secara tiba-tiba Sarah dan Doel Junior tiba dirumah Doel. Dan secara kebetulan Si Doel dan mandra sedang berada diluar rumah. Puncak masalah ini sekalian dengan akhir dari cerita Si Doel Anak Sekolahan The Movie 2 ini. 

Sarah : Doel ayo salam sama Ibu Zaenab. Sekarang kamu harus panggil Ibu yah! karena dia ibu kamu juga. Ayo sayang salam! Sarah berkata kepada Doel Junior

Lalu Sarah pun menyuruh Doel Junior bergabung dengan Kong Mandra dan Papahnya. Setelah berbincang sedikit dengan Doel, Sarah meminta izin kepada Doel untuk berbicara kepada Zaenab.

Zaenab : Sar 
Sarah    : Hai. Kenapa tangan kamu? Sarah bertanya
Zaenab : Gak apa apa
Sarah    : aku mau bicara sama kamu, sebentar saja!

Lalu mereka berdua duduk di ruang depan rumah.

Sarah : Nab. terima kasih ya. Selama ini kamu telah menemani Doel dan merawat Ibu. Aku bahagia Nab. Doel gak salah milih kamu. Dan aku minta, kamu mau menganggap Doel anakku seperti anak kamu juga ya! Kita ga mau bertengkar lagi seperti dulu kan!? Hei, kita sekarang sudah ga muda lagi. Kita harus bisa menanggapi semua ini secara dewasa. Aku juga mau mulai dari sekarang kamu mengganggap aku sebagai kakak mu. Aku juga sudah bilang sama Doel, supaya dia menganggap aku sebagai adiknya, sebagai saudara.

Zaenab : Sar. Aku menjalani ini semua dengan ikhlas. Aku merawat Enyak, hingga nemenin Bang Doel sampai kamu kembali lagi juga dengan ikhlas. Kalau kamu mau balikan lagi dengan Bang Doel, aku juga ikhlas. Aku tahu, Bang Doel masih mencintai kamu.


Sarah : Nab, aku datang kesini untuk ketemu ibu, ketemu Doel, dan ketemu kamu. kamu jangan berpikiran seperti itu. Kisah ku dengan Doel sudah menjadi  kisah manis di masa lalu. Kita resmi sudah berakhir Nab. Jadi, jangan pernah ada perasaan seperti itu lagi. Karena itu hanya akan buat resah hatimu saja. Kita sama-sama mencintai orang yang sama. Dan kita ga mungkin juga hidup sama-sama, iya kan? Jadi, diantara kita harus ada yang berani berkorban untuk cinta kita!


Dari cuplikan di atas, peran Zainab dan Sarah sangat penting dalam menyelesaikan masalah peran utama. Di akhir cerita yang merupakan akhir yang menggantung dimana kedilemaan cinta segi-tiga ini akan terus berlangsung. Sepertinya sang sutradara menginginkan agar penonton membayangkan dalam diri masing masing akhir cerita kisah cinta ini. Sehingga timbulah interpretasi yang berlainan, dan tentunya "Si Doel Anak Sekolahan" akan terus dinantikan kisah yang selanjutnya. Penasaran kan? 


Adapun pesan moral dalam film ini menurut saya adalah bahwa dalam menghadapi permasalahan di dunia ini harus dihadapi dengan sabar dan tetap berbuat baik apa pun kondisinya.


Enak ga jadi Doel ? Yang belum nonton film ini, segeralah menonton di bioskop-bioskop terdekat anda. Selamat menikmati.




INI ADALAH SANG BULAN

Kami semua menatap satu sisi langit yang sama
Disaat semua dalam keadaan gempita
Disebuah tempat yang jauh
Disebuah tempat yang asing

Kami semua menatap satu sisi langit yang sama
Sehingga berkumpul pada satu sisi bumi yang sama
Semua menatap ke arah langit itu
Dan sebuah bola yang bulat

Salah satu diantara mereka
Yang duduk di batas sisi bumi
berkata dengan suara ceria
Sungguh indahnya matahari kami

Dan aku
Menatap sendirian kebelakang
Hitam pekat pertanda malam, lalu berkata
Ini adalah sang bulan


Ade Nugraha
9 May 2019 14:58 WIB




ROHIMUDIN NAWAWI AL BANTANI

ULAMA INDONESIA YANG JADI IMAM BESAR DI MASJIDIL HARAM


Syeikh Rohimudin Nawawi Al Bantani merupakan salah satu ulama besar di Nusantara. Kiprahnya di dunia keagamaan menghasilkan murid-murid yang sangat tersohor seperti KH. Hasyim Asy'ari di Jombang Jawa Timur, KH. Kholil di Bangkalan Madura, KH. R. Asnawi di Kudus, KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, KH. Tubagus Bakri di Purwakarta, dan lainnya. Di awal isi buku ini menampilkan riwayat-riwayat murid-murid beliau di atas yang juga merupakan ulama yang terpandang.

Buku ini memiliki ketebalan 1.5 cm dan 296 halaman. Panjang 16 cm lebar 11 cm. Harga Rp. 65.000,- saja. Buku berwarna putih ini di cetak pada Februari 2017 oleh Mentari Media PT. Melvana Media Indonesia Depok Jawa Barat. Penulis adalah Rohimudin Nawawi Jahari Al bantani yang juga masih keturunan beliau. 

Menurut buku ini, beliau adalah ulama yang melahirkan banyak kitab dan tersebar keseluruh penjuru dunia dan menjadikan kitab-kitab rujukan di berbagai pesantren-pesantren Indonesia. Sebagaimana teolog Asy'ary lainnya, Imam Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim, yaitu Qadariyah dan Jabbariyah. 

Selain meriwayatkan murid-murid beliau yang termasyur, isi buku ini juga menjelaskan karya-karya beliau dan warisan keilmuan seperti di bidang fiqih, tauhid, tasawuf, hadist, sejarah dan bahasa. Dan dilanjutkan bagaimana pengaruh beliau pada masa itu dibidang fiqih, sosial politik, pendidikan, toleransi agama, bahasa, tasawuf dan bidang adab. 

Beliau sendiri, lahir pada tahun 1814 M (1230 H), di Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Banten bagian utara dan berpusara di Ma'la, Mekkah. Cerita bagaimana dikuburkannya di Mekkah merupakan karomah beliau yang akan dijelaskan dalam buku ini beserta karomah-karomah lainnya seperti menjadikan telunjuknya lampu, melihat Ka'bah dengan telunjuknya, mengeluarkan buah rambutan dari tangannya, menulis kitab sejak masih belia dan lain sebagainya. 

Demikianlah resensi buku Rohimudin Nawawi Al Bantani ini saya jelaskan dengan singkat. Diakhir bab dalam buku ini ditampilkan nasihat-nasihat dan kebijakan Imam Nawawi Al Bantani dalam Kitab Nasha-ihul Ibad. 


Sumber : Jahari, Rohimudin Nawawi. 2017. Rohimudin Nawawi Al Bantani. Depok. Mentari Media


LABA-LABA YANG MENAGIH HUTANG

Laba-laba itu yang mereka lukis di mobilku
Sedangkan aku berada disuatu tempat 
Berkumpul bersama yang lain.

Kami menatapi lukisan masing-masing dikejauhan
Ada harimau, ada gajah, ada kalajengking
Ada yang lain.

Ini bagaikan kehendak yang tak bisa ditawar
Setiap orang mendapatkan lukisan yang berbeda-beda
Dan harus membayar jasa lukis mereka.

Apakah aku suka?
Aku tak merasa itu harus disukai atau tidak
Yang jelas aku merasa ketakutan dan jijik

Aku berlari melewati sebuah jembatan yang ku kenal
Jembatan yang semasa kecil sering kulewati.

Laba-laba itu mengejarku mundur di depan
Seolah-olah aku yang mengejarnya.

"Aku tak mau bayar" Ucapku 
Laba laba itu pun menghilang sesaat
"Aku tak mau bayar" mantraku
Laba-laba itu pun kembali menghilang.

Dan tiba-tiba
Dia muncul di sampingku 
Mencengkram tangan kiriku.

"Aku jijik, aku takut, aku tidak suka laba-laba", teriak ku

Hingga istriku membangunkanku.



Bogor, 1 Mei 2019 04:19 WIB
Ade Nugraha







RUMAH DARI AYAHKU

Aku pun pergi dari rumah itu. Kutancapkan gas seolah tak mau dikejar. Mereka menatapku penuh dendam, tatapan keserakahan. Di ruangan itu makian dan hinaan terus menancapkan ke dadaku, sakit rasanya. Ibuku hanya diam, tatapannya sama. Semenjak kepergian ayahku hidupku berubah.

Ini bukan yang pertama kalinya. Mungkin yang kelima kalinya pamanku kembali ke rumah. dia banyak bicara kepada ibuku yang terkadang pikun. Sudah sekian kali aku pun menasehati ibu, namun kadang ibu lupa.

Masuk pintu tol, di tengah perjalanan, kubuka ponselku tuk mencari kembali rumah yang akan dijual. Pikiranku kacau, hanya ku ketik rumah dan lokasi rumah. Jiwaku hancur, sangat hancur. Masih terngiang perkataan-perkataan mereka diruangan itu. Dan ibu tatapannya sama.

Lalu kulanjutkan perjalanan dengan ponsel digenggaman. Menelusuri rumah itu di gps. Seandainya saja ayahku masih ada. Aku tak akan begini. bahkan untuk kembali kerumah pun berat rasanya. Dan adikku seolah memanfaatkan keadaan. Lamunanku terburai ketika salah satu pengendara dibelakang membunyikan klakson dengan kencang, aku berjalan terlalu pelan. Aku lanjutkan mencoba mengontrol emosiku.

Entahlah apa yang ada dipikiranku niat untuk membeli sebuah rumah dengan tidak memiliki uang. Uang Seratus ribu disaku ku mungkin hanya cukup untuk hari ini saja. Yang ada di pikiranku, semua tubuh yang aku miliki saat ini, dan sebuah mobil, aku tetap berusaha. Seadanya.

Tak lama kemudian, telepon berdering dari Ana. Kubasuh air mata lalu ku jawab telpon Ana.

Anna   : Ratih lo lagi dimana?
Aku     : Hai Ana, aku menuju Depok. Jawabku datar
              Apa kabar rumahmu, sudah ada yang cocok kah? aku pun berharap
Anna  : Belum ada tih, satu pun belum ada
Aku    : Anna nanti aku telpon lagi ya, aku sedang dijalan. Ana pun mengiyakan nya

Harapan dari ana pun kandas. Aku terus berpikir. Lalu aku ingat Bela. Aku pun langsung menelponnya dan menanyakan rumah kosannya yang akan dia jual. Hal sama yang kuterima baik Anna dan Bella rumah mereka belum ada yang berminat. Tamat batinku lirih.

Ibu. Aku menangis bila mengingat ibu. Karena hasutan paman ibuku seperti orang lain. Tiba di sebuah perumahan yang dulu aku dan ayahku pernah kesini. Hanya sekedar melihat-lihat perumahan yang lumayan jauh dari jalan utama dengan beberapa rumah. 

"Ratih" seseorang memanggilku tak lama aku menutup pintu mobil.

Ternyata Pak Romli yang dulu pernah kami temui. Saya pun di ajak ke ruangannya dan aneh, beliau mengucapkan bela sungkawa. 

Pak Romli  : "Ratih saya tahu semuanya" mengawali perbincangan 

Dia pun menceritakan semuanya. 


30 April 2019 Ade Nugraha




POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

POS POLISI DAN GUNTING TAMAN

Sudah dua tahun saya bekerja sebagai petugas kebersihan di ibukota. karena saya lulusan sd sangat sulit sekali untuk mencari pekerjaan. sampai akhirnya nasib saya hingga saat ini mentok di petugas kebersihan. Umur saya 31, orang tua saya sudah meninggal dua-duanya dan kini saya tinggal bersama saudara saya di sebuah gubuk pinggiran Jakarta. 11 tahun yang lalu ayah saya meninggal dan saya masih ingat dengan pesan terakhir beliau, yaitu jangan berurusan dengan polisi.

Setiap pagi pukul lima saya sudah berada di jalanan ibu kota. membersihkan daun daun yang berserakan di pinggir jalan. pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas saya sehari hari. Sesekali saya memandang pos polisi yang berisi 4 orang polisi yang sedang berbincang bincang. Entah mengapa memandang pos polisi tersebut seperti memandang hal baru setiap harinya. 

Teringat ketika saya sedang bersama ayah , ibu dan kaka saya ketika kami pergi untuk menjenguk saudara kami di Subang. waktu itu ayah saya untuk pertama kalinya menyewa mobil Carry dan ayah sendiri yang mengemudikannya. Kami sangat senang sekali untuk pertama kalinya walau dengan duit pas-pasan ayah beserta keluarga kecilnya bisa ke rumah saudaranya. Namun alangkah kagetnya di tengah perjalanan mobil kami distop oleh mobil polisi dan mereka pun melangkah menghampiri ayah tercinta kami. saya yang duduk di belakang mengintip ayah saya dan polisi itu, tangan saya gemetar, kaki saya juga. mata saya berlinang air mata melihat ibu saya teriak histeris. Kakak saya hanya diam saja. dan ayah saya , saya melihat ayah mengeluarkan uang seratus ribunya dari dompet. 

Pekerjaan saya selain membersihkan, juga merapihkan tanam-tanaman yang ada di sekitar jalan. pekerjaan inilah yang saya suka, tanaman tanaman yang dipinggiran jalan sudah saya anggap seperti tanaman sendiri. saya perlakukan seperti tanaman saya di gubuk. Kadang saya bawa gunting taman, kadang juga hanya bawa arit saja. sesuai kebutuhan.

Hari yang cerah pukul 7 pagi. aktifitas ibukota yang gemuruh setadi pagi karena jam kerja sudah mulai kembali. lalu lalang kendaraan sudah tidak asing bagi saya. dan setiap memandang pos polisi itu seperti hal yang baru bagi saya setiap pagi. saya perhatikan dari kejauhan. saya perhatikan tingkah tingkah polisi polisi yang ada di pos itu.

Kembali ke cerita ayah dan ibu, sewaktu kami masih tinggal di desa dan saya masih kecil dihimpit diantara ibu dan ayah saya melajukan sepeda motor. Lalu ada seorang seorang polisi mengejar kami dan menanyakan surat surat stnk dan sim. Ayah saya waktu itu memang tidak punya sim dan percekcokan pun terjadi. Dan saya melihat ayah saya ditampar oleh polisi tersebut. Disaat itulah semenjak masih kecil apabila bertemu dengan polisi badan saya gemetar dan keluar keringat dingin hingga sekarang trauma itu masih tersimpan. 

Gunting taman, ya, sebuah gunting taman yang saya bawa dan perlahan saya mencoba mendekati pos polisi itu. karena tanam-tanaman yang dekat dengan pos polisi tersebut memang tidak pernah saya jamah, karena teman saya yang biasa membantu saya sedang sakit. Jadi untuk kali ini saya memberanikan diri.

Gunting taman ini lumayan besar kurang lebih panjangnya 60cm. Tadi malam gunting taman ini saya asah hingga tajam. dari kejauhan hingga mendekati pos polisi tersebut saya memandang, memandang seperti hal yang baru. Kali ini hanya ada seorang polisi yang sedang merokok, dan saya tidak mengenal namanya. di belakang pos polisi saya perhatikan tanaman saya dan merapihkan daun-daun yang sudah panjang. 

Sudah tajam, gunting taman ini sangat tajam. lalu saya membalikkan arah ke seorang polisi tersebut dan menancapkannya ke leher polisi itu. Darah segar pun berceceran. Sepertinya sekali gerakan saja polisi tersebut langsung tidak berdaya. Tubuhnya berlumuran darah. Lantai pos polisi ini pun penuh dengan darah. Melihat pos polisi ini seperti hal baru bagi saya beserta darah dan tubuh yang tergeletak tak berdaya. Dibelakang saya ada ayah dan ibu saya. mereka hanya menatap pos polisi tersebut, seperti saya dan tangan mereka memegang bahu saya dengan lembut.

"Mas Iman, ... mas" , seseorang memanggil nama saya dari belakang.

Saya pun terbangun dari lamunan dan alangkah kagetnya ternyata orang yang memanggil nama saya tersebut adalah polisi yang tadi ada di depan saya. saya pun melihat namanya Ferry Irawan, seperti nama ayah. Saya sangat kaget beliau tau nama saya.

"Bagaimana bapak bisa tau nama saya?"  saya bertanya heran.
"Saya tau nama mas dari teman mas Wandi yang sering ada disini" Polisi itu menjawab.

Saya lihat gunting taman menempel di salah satu batang tanaman di bawah dan polisi itu dengan menjinjing sebuah plastik menawarkan nasi uduk kepada saya. Lalu kami pun berbincang-bincang di pos polisi ini. Gemetar tubuh saya perlahan hilang seiring dengan obrolan hangat kami.

Ade Nugraha 
11 Maret 2015

MERINDUKAN DI KOTA SHIMIZU

MERINDUKAN

Kilauan cahaya Kota Shimizu
Antara maghrib dan Isya
Hayalanku disana bersamamu
Kehangatan di kamar tidur kita

Kembali ke lautan yang hampa
Dan kan kukatakan nanti,
Tentang kita, dan setelah kita
Cukuplah di pantai saja

Lalu perjalanan ini
Setelah semakin jauh menuju Alaska
Kanada, Hawaii dan Australia
Semoga kita
Berpeluk hangat kembali




Golden Princess
Shimizu, 28 April 2018
Ade Nugraha

TERJEMAHAN CERPEN "THE TELL - TALE HEART"

Terjemahan Cerpen "The Tell - Tale heart" 
Karya 
Edgar Allan Poe

Ceritaan – Ungkapan hati

Benar! Gugup, sangat menakutkan yang saya alami; tapi mengapa yang kau katakan aku gila? Penyakit itu telah masuk ke pikiranku, tidak merusak, tak buat aku dungu. Semua itu adalah perasaan yang amat gawat. Aku dengar semua hal di surga dan di bumi. Aku tau semua tentang neraka. Lalu bagaimana saya bisa marah? Mendengarkan! Dan mengamati dengan jernih, dengan tenang, akan aku ceritakan semua kisahnya.

Sangat tidak mungkin untuk menceritakan pertama kali ide itu muncul, tapi, satu hal, yang menghantui siang malam. Tidak ada objek. Tidak ada cara. Aku cinta lelaki tua itu. Ia tidak pernah menyalahkanku. Ia tidak pernah menganiayaku. Untuk emasnya aku tak ada keinginan. Mungkin matanya! ya, itu dia! Matanya menyerupai burung hering itu. Mata biru yang pucat. Kapanpun terasa masuk ke darahku berlari dingin, dan juga secara bertahap, aku buat pikiranku untuk hidup bersama lelaki tua itu, hal itu melemparkanku pada kehidupan mata hering itu.

Sekarang ini intinya. Kau menghayal aku gila. Lelaki gila tak tau apa-apa. Tapi kau harusnya melihatku. Kau harusnya melihat betapa bijaksananya aku  memulai semua ini —dengan peringatan apa—dengan meninjau masa depan mana, dengan pura-pura yang mana, aku pergi bekerja! Aku tidak pernah mengambil tindakan kepada lelaki tua itu sampai selama seminggu sebelum aku bunuh dia. Dan setiap malam, tengah malam aku buka pintu kamarnya dengan hati-hati! Kemudian, ketika pintu terbuka cukup masuk kepalaku, aku letakan berdekatan dengan lentera yang gelap, dekat sehingga tak ada cahaya keluar, lalu aku masukan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti tertawa melihatku dengan cerdik memasukan kepalaku kedalam! Pelan, sangan pelan, sehingga tak mengganggu lelaki tua itu yang tertidur. Berjam-jam aku lakukan itu, untuk membuat kepalaku seluruhnya masuk sampai aku melihatnya tertidur di ranjang. Ha! Akankah lelaki gila ini mengetahui sat saat seperti ini? Aku baru saja membukanya sehingga sinar tipis mengena pada mata burung hering. Yang ini aku lakukan untuk malam panjang yang ke tujuh, setiap malam setiap tengah malam, tapi mata itu selalu tertutup, hal yang mustahil untuk melakukan sesuatu, untuk itu bukan lelaKi tua yang menyakitiku tapi mata setannya. dan setiap pagi, ketika hari terjatuh, aku pergi ke kamar dan berkata dengan berani kepadanya, memanggil namanya dengan keras, dan menyelidiki bagaimana ia melewati malam. Setiap jam 12 aku lihat dia ketika tidur.

Malam yang ke 8, aku lebih biasakan membuka pintu. Tiap menit bergerak cepat daripada yang dirasakan. Belum pernah sebelumnya malam itu aku merasakan kehadiran dari kekuatanku sendiri, dari kecerdikanku. Aku hampir menang. Berpikir membuka pintu sedikit demi sedikit, dan ia bahkan tidak memimpikan rahasia perbuatanku. Aku tertawa kecil dengan ide ini, dan barang kali ia mendengarku. Sekarang kamu mungkin berpikir aku menggambarkan yang lalu- tapi tidak. Kamarnya gelap. Dan juga saya tahu bahwa ia tidak akan melihat ketika aku membuka pintu dan terus membuka perlahan.

Aku telah masukkan kepalaku, dan membuka lentera, ketika aku memegang tali timah, dan lelaki tua itu terbaring di kasur, teriak, siapa itu?

Aku diam. Diam lama sekali. Saat itu juga aku tak mendengar ia turun dari ranjang. Ia masih berada di ranjang, mendengarkan; yang baru saja aku lakukan tiap malam.

Segera, aku dengar rintihan, dan aku tahu itu adalah rintihan dari sebuah teror. Bukan rintihan rasa sakit atau sedih. Oh, tidak! Suara itu adalah suara tak berdaya yang ku dengar. Aku tahu suara itu. Banyak malam, baru saja, ketika semua tertidur, mengalir didada, sangat dalam, dengan rintihan itu, teror itu menggangguku. Aku tahu betul. Aku tahu yang dirasakan oleh lelaki tua itu, aku kasihan padanya walau hatiku mengeluh. Aku tahu bahwa ia sudah pernah berbohong sejak ketika pertama kali gaduh saat beranjak dari tempat tidur. Ketakutannya sedang tumbuh. Ia mencoba berhayal tanpa sebab, tapi gagal. Ia berkata pada dirinya “ Itu adalah tak lain hanya asap dari cerobong, itu hanya tikus yang berjalan di tembok”.  

Ketika aku telah menunggu lama waktu dengan sabar tanpa tatap muka dia berbaring, aku memecahkan untuk membuka suatu sedikit-- seluruhnya, sangat kecil celah di dalam lentera itu. Maka saya membuka itu-- kamu tidak bisa membayangkan bagaimana pelannya, diam-diam-- sampai sinar suram tunggal seperti benang laba-laba memancar dari celah dan menyerang mata burung manyar itu.

Terbuka, lebar, terbuka lebar-lebar, dan aku bergerak sangat hebat dan menatap di atas nya. Aku lihat ia dengan jelas sempurna-- semua luka yang biru tumpul dengan dengan selubung yang mengerikan di atas itu kedinginan itu seluruh sumsum di dalam tulang ku, tetapi aku bisa lihat tidak ada yang lain untuk orang atau wajah yang tua, karena aku telah mengarahkan sinar itu seolah-olah oleh naluri yang dengan tepat ketika noda yang terkutuk itu.

Dan sekarang aku menceritakan kepada kamu bahwa apa yang kamu salah kira untuk kegilaan ini tidak lain dari over-acuteness pikiran sehat? sekarang, aku katakan, disana datang kepada telinga ku adalah suatu bunyi; serasi cepat yang tumpul, seperti suatu penantian membuat ketika kapas dibungkus. Aku mengetahui bahwa bunyi; serasi yang baik juga. Itu adalah pukulan jantung yang tua. Itu meningkat amukan ku ketika pukulan suatu drum merangsang prajurit itu ke dalam keberanian.

Jika kamu masih berpikir saya gila, kamu tak akan berpikir lama ketika saya menggambarkan tindakan pencegahan di dalam persembunyian. malam semakin larut, dan aku harus cepat, tetap pelan.

Aku ambil 3 papan dari lantai kamar, dan menyimpannya diantara balok-balok. Lalu meletakkan kembali dengan rapi, sehingga tak ada orang yang dapat mengetahuinya. Tak ada sisa noda darah sedikitpun. Aku sangat hati-hati.

Ketika semuanya akan berakhir, jam 4 pagi, masih gelap. Ketika bel jam berdeting, ada seseorang yang datang. Aku turun dengan hati yang cerah., tak ada ketakutan? 3 pria, memperkenalkan diri dengan sopan, polisi. Tetangga mendengar jeritan malam tadi. Kecurigaan telah terjadi. Dan mereka pun ditugaskan untuk kesini.

Aku tersenyum, tak ada rasa takut? Aku tawarkan mereka masuk. Teriakan, aku berkata, itu suara ku ketika bermimpi. Lelaki tua, aku jelaskan, pergi ke daerah. Aku tawarkan mereka menggeledah rumah. Aku ajak mereka ke kamar lelaki tua itu. Aku tunjukkan miliknya, aman, tak ada yang rusak. Lalu aku bawakan mereka kursi untuk duduk istirahat, dan aku, dengan berani aku duduk di tempat papan bernoda tadi.

Caraku telah meyakinkan mereka dan mereka puas. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan aku jawab riang. Tapi, tak lama kemudian mukaku pucat karena ingin segera mereka pergi. Kepalaku sakit, dan berkhayal bunyi dering ditelingaku. Mereka tetap duduk dan berbincang. Bunyi dering itu makin jelas. Aku mencoba berkata lebih bebas. Tapi hal itu terus berulang pasti. Sampai, suara itu aku rasa tak ada di telingaku.

Sekarang aku sangat pucat. Tapi aku berkata lebih fasih, dan dengan suara yang meninggi. Apa yang harus aku lakukan? Aku menghembus, dan sebelum polisi mendengarnya. Aku berkata lebih cepat, lebih bernafsu namun tetap dengan suara bersahabat.